3 Bulan Tanpa Pemasukan, Pelukis Tamansari Gagal Panen Untung Saat Lebaran

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Muhammad Ilham Baktora
3 Bulan Tanpa Pemasukan, Pelukis Tamansari Gagal Panen Untung Saat Lebaran
Pengusaha cendera mata Rudi Tayan menunjukkan kaus dan kanvas lukis di kediamannya, Kampung Taman, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta, Senin (25/5/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Rudi Tayan merupakan seorang pengusaha cendera mata berupa kaus lukis dan kanvas lukis di Kampung Taman, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta.

SuaraJogja.id - Memasuki H+1 Lebaran, biasanya masyarakat banyak yang memanfaatkan hari libur tersebut untuk berwisata. Berkumpulnya keluarga besar dimanfaatkan untuk menyambung silaturahmi dengan berlibur bersama.

Sayang, hal itu hanya angan-angan semata untuk tahun ini. Pasalnya, wabah Covid-19 di Indonesia yang makin tak terkontrol memaksa sejumlah destinasi wisata ditutup.

Imbasnya, sejumlah warga dan pengusaha yang membuka lapak jualan di sekitar objek wisata ikut terdampak, bahkan harus kehilangan pendapatan besar pada momen Lebaran seperti ini.

"Tahun lalu [Lebaran 2019] kawasan rumah saya sampai penuh sesak. Rumah saya, yang juga sebagiannya toko, sampai dipadati wisatawan. Namun di tahun ini warga sengaja menutup lapaknya karena tiak ada wisatawan," ungkap Rudi, ditemui SuaraJogja.id di toko cendera mata miliknya, Senin (25/5/2020).

Rudi Tayan merupakan satu dari sejumlah pengusaha yang menjual cendera mata berupa kaus lukis dan kanvas lukis di Kampung Taman, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. Pria yang selama 23 tahun berkecimpung di dunia seni rupa ini kecewa lantaran tak banyak wisatawan datang pada Lebaran ini.

Baca Juga: Ryan Giggs: Manchester United Masih Butuh 5 Pemain Baru

"Yang pertama memang jelas karena wabah Covid-19, seluruh perekonomian di kampung kami lumpuh, bahkan pedagang menutup lapaknya masing-masing agar terhindar dari virus. Selain itu, momen libur Hari Raya Idul Fitri merupakan waktu yang baik untuk meraup untung. Sayang karena corona, kami tidak bisa menikmati itu," kata dia.

Kampung Taman, atau yang lebih dikenal dengan Kampung Cyber, berdekatan dengan destinasi wisata situs Tamansari. Hampir tiap hari situs milik Keraton Yogyakarta itu tak pernah sepi pengunjung. Bahkan ketika libur Lebaran, seluruh ruas jalan kampung dipadati wisatawan.

Pengusaha cendera mata Rudi Tayan menunjukkan kaus dan kanvas lukis di kediamannya, Kampung Taman, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta, Senin (25/5/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)
Pengusaha cendera mata Rudi Tayan menunjukkan kaus dan kanvas lukis di kediamannya, Kampung Taman, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta, Senin (25/5/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

"Selain melukis kaus dan kanvas, saya juga menjual minuman untuk wisatawan, sehingga pendapatan dari makanan ini sebagai penopang hidup setiap hari. Lukisan tetap saya jual kepada wisatawan yang datang," jelas dia.

Baca Juga: Kisah Dusun Kedungpalang Mojokerto, Berani 'Lockdown' saat Lebaran

Rudi mengaku, meski sudah berkecimpung di dunia seni lukis puluhan tahun, dirinya baru memulai bisnis kaus dan kanvas lukis sekitar 2015 silam. Lukisan yang dia buat mendapat apresiasi pengunjung, terutama wisatawan dari luar negeri.

"Wisatawan di Tamansari memang kebanyakan dari Malaysia, China, Jepang, sampai Thailand. Sebelumnya pelanggan saya dari Jepang akan berkunjung ke sini. Dia sudah memesan kanvas lukis senilai total Rp9 juta. Kami sudah janjian pada Maret lalu, tapi karena ada wabah ini, dia urung berkunjung ke Indonesia," katanya.

Berbicara soal pendapatan dari usaha lukisnya, Rudi bisa meraup Rp600-700 ribu setiap hari. Ketika momen libur panjang seperti Lebaran, ia bisa mengantongi Rp1 juta lebih.

"Jadi dari usaha lukis ini saya kumpulkan untuk kebutuhan ke depan. Hasilnya saya tabung untuk keperluan yang lebih penting. Karena corona seperti ini akhirnya tidak ada pemasukan yang stabil. Mau tidak mau kami bertahan dengan tabungan yang telah kami siapkan sebelumnya," kata pria lulusan Seni Rupa Universitas Taman Siswa Yogyakarta itu.

Suasana destinasi wisata situs Tamansari Jogja yang sepi pengunjung, Senin (25/5/2020), sejak ditutup pertengahan Mei lalu - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)
Suasana destinasi wisata situs Tamansari Jogja yang sepi pengunjung, Senin (25/5/2020), sejak ditutup pertengahan Mei lalu - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Bersamaan dengan Rudi, seorang tour guide Wisata Tamansari, Bambang Wijanarko (50), mengaku tak banyak mendapat pemasukan dari aktivitasnya. Di samping tidak ada pengunjung, ia juga takut terhadap penularan virus corona.

"Sebenarnya wisatawan yang datang itu kan bisa dari zona merah. Karena takut menular, saya memberi pengertian agar mereka tidak masuk. Namun setelah ditutup [objek wisata] pada 14 Mei lalu, saya merasa aman, tapi karena aman, pendapatannya malah berkurang," kata ayah dua anak itu.

Baik Rudi dan Bambang berharap, pandemi Covid-19 seceepatnya hilang. Selama hampir tiga bulan tak ada pemasukan yang mereka dapatkan. Mereka hanya memanfaatkan tabungan serta donasi yang ada.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS