Introspeksi Diri Lewat Seni dan Sampah Ala Studio Tactic

Untuk menghidupkan ekosistem seni itu perlu saling bantu.

Galih Priatmojo
Senin, 14 Desember 2020 | 21:10 WIB
Introspeksi Diri Lewat Seni dan Sampah Ala Studio Tactic
Sejumlah kriya fungsional dan floating installation karya tim Studio Tactic dan peserta beragam workshop, ditampilkan oleh Ayu, Bunga dan Lili, di Studio Tactic. (kontributor/uli febriarni)

Menjadikan plastik sebagai pengganti kain, Studio Tactic telah banyak mengubah plastik kresek yang sebelumnya hanya teronggok dan dikumpulkan --tak punya nilai jual--, menjadi produk yang bernilai jual tinggi, bahkan menengah ke atas.

Paham sedang berbaur bersama masyarakat, Studio Tactic mengajak khalayak mengolah limbah plastik kresek dengan teknik sederhana, alat sederhana.

"Misalnya untuk buat totebag, pouch itu dipress dulu. Kami pakai setrika, jadi pakai benda yang ada di rumah. Kalau pakai alat yang susah-susah, malah menjauhkan kembali, padahal niat kami mendekatkan kebiasaan ini dengan masyarakat," tuturnya.

Bahan baku kresek yang digunakan untuk membuat produk-produk di Studio Tactic, berasal dari pilahan sampah yang dikumpulkan oleh tim Tactic, membeli dari bank sampah dan program Adopsi Plastik yang anggotanya lebih dari 100 orang.

Baca Juga:Sirekap Sempat Eror, KPU Sleman Tetap Rapat Pleno Rekapitulasi Hitung Suara

"Seandainya bisa, kami akan terus bergerak sampai enggak ada lagi plastik di dunia," ujar Lili yang bergabung sejak 2018 itu.

Sementara itu, Ayu Arista Murti menyebutkan, dalam berkesenian dengan media sampah, teman-teman Studio Tactic berusaha transfer teknologi bersama masyarakat dalam mengolah dan mengelola sampah rumah tangga.

"Intinya bagaimana mereka bisa memanfaatkan benda sekitar yang tadinya dibakar, dibuang, supaya tetap bermanfaat. Apalagi pandemi banyak belanja online dan sampah numpuk, padahal pengambilan sampah belum tentu teratur," ungkapnya.

Ayu menambahkan, sampah utamanya sampah plastik adalah masalah global bukan lagi masalah lokal.

"Daripada cuman protes, kami lebih ke aksi, sesuatunya sederhana aja ini. Tidak ada support yang melembaga seperti pemerintah, NGO atau lembaga keuangan yang besar. Kami kolektif dan independen, semua kegiatan didanai kocek pribadi dan hasil penjualan produk-produk kami," terangnya.

Baca Juga:Mengintip Budi Daya Maggot di Sleman, Berdayakan Warga Terdampak Tol

Di kesempatan itu, Ayu juga menyoroti perihal kebiasaan memilah sampah yang belum didukung hulu ke hilir. Misalnya saja, dari rumah tangga setiap penghuni sudah memilah sampahnya. Namun, saat dikumpulkan oleh petugas, sampah tadi akhirnya dicampur kembali.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Lifestyle

Terkini

Tampilkan lebih banyak