Pemerintah, menurutnya, harus berpihak pada karya anak bangsa. Ia berharap, pemerintah dapat menggerakkan daerah-daerah untuk menggunakan alat ini untuk meningkatkan surveillance di tingkat daerah.
"Di kondisi saat ini di mana pandemi terus meningkat, negara harus berpihak. Keberanian pemerintah dalam memutuskan menjadi penting," ucapnya.

Senada dengan hal ini, ketua tim peneliti GeNose Kuwat Triyana menuturkan bahwa produksi GeNose diutamakan kepada pemerintah serta perusahaan yang akan memanfaatkan GeNose untuk melakukan deteksi kepada banyak orang.
Hingga 31 Desember, pihaknya telah menerima lebih dari 10 ribu pesanan untuk GeNose. Kapasitas produksi sendiri ditargetkan mencapai 5 ribu hingga 10 ribu di bulan Januari 2021 dan akan ditingkatkan pada Februari mendatang sesuai dengan jumlah permintaan yang masuk.
Baca Juga:Belum Lama Dapat Izin Edar, Pesanan GeNose Buatan UGM Capai 10 Ribu Unit
“Kita tidak merekomendasikan alat ini untuk dimiliki pribadi. Bukannya kita tidak butuh uang, tapi ini kita alokasikan agar dalam sehari alat ini dapat menguji 120 hingga 200 orang, kalau kita punya 10 ribu itu 2 juta orang sehari,” paparnya.
Alat yang sudah memperoleh paten dalam negeri ini, kata dia, memiliki sejumlah perbedaan dengan alat serupa yang sudah dikembangkan di beberapa negara, salah satunya dalam penggunaan kantong penampung napas yang terpisah dari alat GeNose, sehingga mengurangi kemungkinan transmisi virus.