Harga Cabai Naik, Ini Siasat Pedagang Ayam Geprek di Bantul agar Tak Merugi

Per harinya, warung ayam geprek tempat Eka bekerja selalu menyiapkan 4-5 kilogram cabai rawit.

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Muhammad Ilham Baktora
Kamis, 18 Maret 2021 | 15:33 WIB
Harga Cabai Naik, Ini Siasat Pedagang Ayam Geprek di Bantul agar Tak Merugi
Eka Kurniawan mengolah ayam geprek sambal pedas di warung makan tempatnya kerja di sekitar Jalan Bantul, Kabupaten Bantul, Kamis (18/3/2021). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Pernyataan lain diungkapkan pedagang gado-gado di Jalan Bantul, Sumitro (43). Dirinya terpaksa membeli cabai rawit dengan jumlah sedikit dan dicampur dengan cabai merah besar.

"Agar tetap pedas, saya campur antara rawit dan cabai lainnya. Karena tidak mungkin saya menaikkan harga per porsinya, sebab pelanggan sudah tahu dengan harga yang saya jual," kata dia.

Terpisah, Kepala Seksi Distribusi dan Harga Barang Kebutuhan Pokok, Disperindag Bantul, Zuhriyatun Nur Handayani menjelaskan, bahwa meroketnya harga cabai rawit, diprediksi karena faktor alam. Disamping itu, gangguan hama menjadi alasan cabai mati dan berkurang hingga membuat harga tinggi.

"Salah satu komoditas yang rawan karena gangguan hama penyakit kan cabai ya, selain itu cabai ini juga tidak bisa disimpan lama. Jadi memang siklus alam seperti musim hujan ini mempengaruhi. Namun stok di pasar masih cukup," katanya.

Baca Juga:Tak Ada Larangan Mudik, Bantul Prediksi Pemudik Lebih Banyak dari 2019

Disperindag memprediksi bahwa harga cabai akan kembali normal menjelang puasa Ramadan yang diperhitungkan jatuh pada 13 April mendatang.

"Awal-awal puasa nanti harga bisa turun lagi. Karena kondisi cuaca di Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Harga terus kami pantau," kata Zuhriyatun.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak