alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kenali Jam Bancet dan Batu Yoni, 2 Peninggalan Sejarah Masjid Kauman Bantul

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Muhammad Ilham Baktora Kamis, 15 April 2021 | 08:25 WIB

Kenali Jam Bancet dan Batu Yoni, 2 Peninggalan Sejarah Masjid Kauman Bantul
Ketua Takmir Masjid Sabilurrosyad Hariyadi menunjukkan jam bencet atau jam matahari di Pedukuhan Kauman, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, Bantul, Rabu (14/4/2021). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Selain peninggalan jam bencet, Masjid Sabilurrosyad, yang juga dikenal dengan Masjid Kauman Bantul, juga masih menjaga sebuah batu hitam berupa Yoni.

SuaraJogja.id - Masjid Sabilurrosyad, yang juga dikenal dengan Masjid Kauman Bantul, meninggalkan sejarah yang menarik. Masjid yang dibangun di era kerajaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu menyimpan dua peninggalan sejarah berupa jam bancet atau jam matahari dan juga batu Yoni.

Terletak di Pedukuhan Kauman, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Masjid Kauman berusaha menjaga nilai-nilai sejarah yang ditinggal oleh leluhurnya.

Ketua Takmir Masjid Sabilurrosyad Hariyadi menjelaskan bahwa jam bancet atau jam matahari sudah ada sebelum Indonesia merdeka, tetapi mulai diletakkan di sekitar masjid sekitar tahun 1950.

"Jam ini sudah ada di masjid ini, tetapi belum ditempatkan secara pas, jadi masih dipindah-pindah. Masuk tahun 1950, dibuatkan tempat khusus di sisi utara masjid dan sampai saat ini ditempatkan di sana," terang Hariyadi, ditemui wartawan, Rabu (14/4/2021).

Baca Juga: Pasar Tiban Buka Lagi, Penjual Takjil Bantul: Ramadan 2021 Lebih Terasa

Hariyadi menjelaskan, jam bencet tersebut memiliki cekungan setengah lingkaran berbahan kuningan. Cekungan tersebut dilapisi semen putih berbentuk kotak yang di tengahnya memiliki tertancap sebuah paku. Fungsi paku sendiri sebagai petunjuk bayangan yang nantinya mengarah pada angka yang ada di Kuningan tersebut.

"Ini termasuk modern. Jam ini digunakan sebagai penunjuk waktu, seperti pagi, siang, sampai sore. Memang zaman dulu belum ada jam seperti sekarang dan menggunakan alat ini. Orang dahulu juga menggunakan jam ini untuk menentukan waktu salat," terang dia.

Karena berbentuk setengah lingkaran, jam bencet hanya bisa menunjukkan waktu hingga petang. Di sisi lain, ketika cuaca mendung, alat tersebut tak bisa berfungsi lantaran tidak ada bayangan.

Batu Yoni, peninggalan sejarah yang berada di Masjid Sabilurrosyad, Pedukuhan Kauman, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, Bantul - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)
Batu Yoni, peninggalan sejarah yang berada di Masjid Sabilurrosyad, Pedukuhan Kauman, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, Bantul - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Hingga saat ini, jam bencet masih digunakan untuk mengetahui waktu salat. Namun tidak sampai lima waktu, hanya sampai menjelang ashar.

"Karena jika sudah malam, tentu tidak bisa dilihat karena tidak ada matahari. Tetapi hitungan dari jam bencet dengan jam yang ada sekarang hanya selisih sekian menit. Misal bayangan paku berada di tengah yang menunjukkan waktu salat dzuhur, tidak tepat pukul 12.00 WIB, selisih sekitar 20 menit menjadi 11.40 WIB," terang Hariyadi.

Baca Juga: Dapat Tambahan 10 Ribu Dosis, Bantul Lanjut Vaksinasi Lansia di Bulan Puasa

Begitupun saat memasuki waktu ashar, saat bayangan paku menunjuk ke angka 3, bukan berarti sudah tepat pukul 15.00 WIB.

Disinggung dari mana alat ini didapatkan, Hariyadi mengaku kurang begitu mengingat. Namun, dari cerita sesepuh terdahulu yang mendirikan masjid ini, jam bencet didapat dari Malang.

"Jika cerita dari simbah-simbah terdahulu dibawa ke sini oleh santri. Kebetulan para santri selesai mengaji dari Tegalrejo (Malang). Setelah itu diletakkan di masjid ini sebagai penunjuk waktu salat," katanya.

Selain peninggalan jam bencet, masjid tersebut juga masih menjaga sebuah batu hitam berupa Yoni.

Hariyadi menjelaskan sebelum Islam masuk, masyarakat di Kauman masih memeluk agama Hindu. Yoni tersebut digunakan untuk meletakkan sesajen oleh pemeluk agama tersebut.

"Ketika Islam semakin luas dan dibangun masjid ini, Yoni tersebut digunakan oleh Kanjeng Panembahan Bodho untuk ancik-ancikan (pijakan) berwudhu. Karena memiliki nilai sejarah, tetap kami jaga dan dibiarkan berada di sekitar masjid," katanya.

Berbeda dengan jam bencet yang masih berfungsi untuk menunjukkan waktu salat, Yoni hanya dipajang di sisi utara masjid sebagai bagian sejarah.

"Ya intinya peninggalan ini kami berusaha untuk menjaga sejarahnya. Karena terbentuknya masjid ini juga tidak jauh dari sejarah terdahulu," kata Hariyadi.

Di bulan Ramadhan penuh berkah ini, mari kita ringankan beban saudara sesama yang kesusahan. Berbagi sambil menambah amalan lewat sedekah makanan bersama Suara.com di laman Indonesia Dermawan. Untuk langsung meng-input jumlah sedekah silakan KLIK DI SINI!

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait