Namun, perjalanan selama empat tahun ini juga bukan tanpa hambatan. Wina mengatakan masih banyak orang yang meragukan karya dari anggota Difabel Zone. Selain itu, anggota yang bekerja di komunitas itu juga harus terus diberikan motivasi.
Emosional yang kerap kali naik dan turun, serta sakit fisik yang kerap didera sakit menjadi penghalang dari masing-masing pribadi difabel. Meski demikian, Wina nampaknya cukup berhasil membangun lapangan kerja bagi difabel. Berawal dari sepuluh orang, sampai saat ini ada hampir 25 orang yang mencari nafkah di tempat itu.

"Di tengah segala keterbatasan ternyata teman-teman difabel bisa dan mampu bekerja produktif menghasilkan karya batik yang luar biasa. Di luar pemikiran nalar ketika cedera berat motorik gerak tangan masih bisa membatik walau dengan tangan kiri," imbuhnya,
Wina berharap kedepannya semakin banyak penyandang disabilitas yang mendapatkan kesempatan untuk berkarya. Produksi hasil karya tangan mereka juga bisa mendapatkan lebih banyak apresiasi dari masyarakat luas, setara dengan hasil karya masyarakat pada umumnya. Serta, konsep inklusi bisa segera terwujud antara difabel dan non-difabel.
Baca Juga:Dikabarkan Hilang, Seniman Jogja DItemukan Tewas di Bengawan Solo
Salah satu pegawai, Suhartono menceritakan jika dirinya sudah bekerja di Difabel Zone sejak komunitas itu terbentuk. Sebagai penyandang tuna daksa, Suhartono bertugas untuk membuat desain dari batik yang akan dikerjakan oleh rekan-rekannya. Gambar yang dibuat pun hanya sederhana, digambar di atas kain kemudian ditumpuk dengan malam untuk menjadi batik.

Pria berusia 40 tahun tersebut menceritakan, dari 25 anggota Difabel Zone tidak semuanya tinggal di kawasan Pandak, Bantul. Akibat pandemi yang merebak sejak tahun 2020 lalu, beberapa anggota pulang ke rumahnya masing-masing yang ada di berbagai daerah. Mulai dari Salatiga, Boyolali dan Magelang.
"Pandemi ini, khusus lokal saja," kata Suhartono.
Hampir seluruh anggota Difabel Zone memiliki asal yang sama, yakni pernah magang di YAKKUM. Wina sendiri, selaku pendiri pernah menjadi mentor di yayasan tersebut. Setelah selesai magang di YAKKUM, beberapa ada yang ditarik ke Difabel Zone untuk belajar mandiri, hingga akhirnya diterima kerja di tempat itu.
Bukan hanya bekerja membuat batik, difabel yang tinggal di rumah bergaya tempo doeloe itu juga mereka belajar hidup mandiri. Mulai dari merawat kebersihan rumah, pergi berbelanja ke pasar, hingga masak dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Dengan berbagai kemampuan yang dimiliki, anggota Difabel Zone bekerjasama menjalankan aktivitas sehari-hari.
Baca Juga:Mensos Risma Beri Motor Roda Tiga ke Remaja Difabel di Pekalongan
Bagi Suhartono, hal-hal tersebut berguna untuk bekal bagi penyandang disabilitas jika kelak sudah lelah bekerja dan ingin kembali ke kampung halaman. Setidaknya sudah memiliki kemampuan dasar untuk bertahan hidup, seperti memasak dan sebagainya.