Sejumlah Klaster Covid-19 Bermunculan di Sleman, Begini Penjelasan Dinas Kesehatan

Sejumlah klaster Covid-19 bermunculan di Sleman, di antaranya terjadi di Ngaglik dan Papringan

Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana
Kamis, 03 Juni 2021 | 08:19 WIB
Sejumlah Klaster Covid-19 Bermunculan di Sleman, Begini Penjelasan Dinas Kesehatan
Ilustrasi Virus Corona (Unsplash/CDC)

SuaraJogja.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman menyatakan munculnya sejumlah klaster Covid-19 di Bumi Sembada akhir-akhir ini tidak sepenuhnya terjadi pascalebaran saja. Beberapa kasus malah justru sudah muncul sejak sebelum Lebaran lalu.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman Joko Hastaryo mengambil contoh kasus di Padukuhan Ngaglik, Kalurahan Caturharjo, Sleman atau bahkan kasus Covid-19 di Padukuhan Papringan, Kalurahan Caturtunggal, Depok, Sleman yang sudah terjadi jauh sebelum lebaran.

"Misalnya seperti yang disinggung kemarin mungkin kan ada Papringan, itu jauh sebelum lebaran saat masih puasa awal sudah ada kasus. Cuma karena tracing kita yang massal barengan dengan Ngaglik itu baru tambahan yang muncul setelah itu," kata Joko kepada awak media, Rabu (2/6/2021).

Waktu pemeriksaan atau testing secara massal kepada lingkungan masyarakat yang diduga terdapat sebaran kasus Covid-19 juga dinilai menjadi penyebab klaster-klaster tersebut muncul pascalebaran. Pasalnya dalam beberapa kasus itu swab massal dilaksanakan pada 22 Mei 2021 dengan hasil yang keluar pada 25 Mei 2021.

Baca Juga:Wisatawan Dipaksa Sewa Jip Bukan yang Pertama, Sekda Sleman: Oknumnya Sama

"Padahal sebetulnya penularannya bisa jadi sebelum lebaran. Sehingga kalau mau dikatakan lebaran ada berapa klaster itu memang tidak bisa mengatakan persis. Artinya kalau yang betul-betul terkait dengan libur lebaran kemarin ya hanya di Nglempong itu," terangnya.

Belajar dari sebaran kasus Covid-19 di Ngaglik maupun Nglempong, kata Joko, setelah dilacak lebih lanjut tetap terdapat unsur orang yang datang dari luar. Sehingga memang penularan tidak murni berasal dari dusun setempat saja.

Namun Joko tidak bisa memastikan apakah orang yang berasal dari luar dusun itu pemudik atau bukan. Sebab tidak dipungkiri aktivitas warga juga sudah meningkat saat menjelang Lebaran.

"Tapi apakah itu pemudik atau tidak, itu yang tidak bisa kita identifikasi. Karena aktivitas menjelang lebaran itu kan mungkin ada kegiatan misalnya pengajian atau kegiatan peribadatan yang lain. Hal itu menyebabkan orang dari luar kampung itu datang. Itu yang tidak bisa dibatasi. Setelah ada lockdown mikro kemarin baru bisa dibatasi pendatang dari luar," ungkapnya.

Dari sisi perkembangan jumlah kasus di Sleman sendiri selama bulan Mei, disebutkan Joko, ada lima kali penambahan kasus di atas 100 orang perhari. Kondisi itu berbeda dibanding pada bulan Januari lalu.

Baca Juga:Kasus Bertambah, Dinkes Sleman Ungkap Ketersediaan Tempat Tidur Pasien Covid-19

"Pada Januari kemarin setelah libur akhir tahun itu kan dalam satu bulan yang penambahan kasus hariannya itu yang lebih dari 100 kasus sampai ada 7 hari, tapi tidak berturut-turut. Jadi 7 hari itu ada yang  115-118 [kasus] lalu selang berapa hari," jelasnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak