Kasus Stunting di Bantul Meningkat, Bupati Imbau Hindari Pernikahan Dini

Halim menuturkan, selain karena adanya pandemi Covid-19, pernikahan dini juga harus diantisipasi sebagai faktor angka kasus stunting di Bantul naik.

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Muhammad Ilham Baktora
Kamis, 17 Juni 2021 | 09:50 WIB
Kasus Stunting di Bantul Meningkat, Bupati Imbau Hindari Pernikahan Dini
Dinas Kesehatan Bantul mendengarkan paparan dari Bupati Bantul Abdul Halim Muslih saat Rembug Stunting Kabupaten di Kantor Kompleks Pemkab Bantul, Rabu (16/6/2021). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

"Data kami menunjukkan signifikansi paling banyak terkait makan yang kurang kepada anak dan kenaikan berat badan, ini menjadi problem. Sebetulnya urusan indeks makanan atau nutrisi itu perlu ada perhatian. Jika turun atau sama ada penyakit atau tidak, kemungkinan kenaikan berat badan ini," kata Agus.

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif juga menjadi kunci utama pada masa bayi. Agus menilai jika hal itu masih sering terabaikan oleh orang tua bayi.

"Padahal sebetulnya bayi sampai 6 bulan cukup dengan ASI saja. Asal konsumsi gizi si ibu baik, termasuk asi rutin sesuai kebutuhan bayi," jelas dia.

Agus mengatakan dalam Rembug Stunting yang dilakukan, Dinkes bersama jajaran OPD lain akan mendorong kader dan petugas kesehatan baik di tingkat posyandu dan kabupaten mengawal para orang tua.

Baca Juga:Hingga Pertengahan Juni, Bantul Masuk dalam Zona Risiko Tinggi Penyebaran Covid-19

"SDM dari kami (Dinkes) sudah dibekali keterampilan, ada sekitar 12.000 orang. Mereka melakukan dari pemantauan, mengidentifikasi dan melaporkan ke puskesmas untuk dikonsultasikan kepada kami. Selanjutnya Dinkes mengambil langkah dengan tindak lanjut jika itu perlu dilakukan secara lebih profesional misal harus ada dokter anak, atau dokter spesialis lainnya," jelas Agus.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak