alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Krisis Oksigen dan Kematian 63 Pasien Disorot Media Asing, Terparah di Asia Tenggara

Galih Priatmojo Rabu, 07 Juli 2021 | 10:55 WIB

Krisis Oksigen dan Kematian 63 Pasien Disorot Media Asing, Terparah di Asia Tenggara
ilustrasi tabung oksigen, masker oksigen. (Dok. Envato)

Krisis oksigen di sejumlah kota besar di Indonesia mendapat sorotan media asing

SuaraJogja.id - Krisis oksigen di RSUP Dr Sardjito yang terjadi akhir pekan lalu disusul dengan informasi mengenai meninggalnya 63 pasien tak hanya jadi sorotan di dalam negeri. Media luar negeri nyatanya juga turut memberi perhatian atas peristiwa tragis tersebut.

Dalam laporannya bertajuk Indonesia Menghadapi Krisis Oksigen di Tengah Memburuknya Lonjakan Covid, BBC membuka tulisannya dengan kisah kematian 63 pasien akibat kehabisan oksigen.

"Rumah sakit mengatakan mereka hampir kehabisan persediaan, dan melaporkan bahwa 63 pasien meninggal akibat kekurangan oksigen," tulisnya.

Pemda DIY sendiri sebelumnya mengungkapkan seiring dengan meningkatnya kasus Covid-19, kebutuhan oksigen medis di DIY turut melonjak. 

Baca Juga: Anggarkan Rp7 Miliar, Pemda DIY Aktifkan Selter Desa dan Kabupaten

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembajun Setyaningastutie mengungkapkan tingginya kebutuhan oksigen disebabkan kasus yang semakin bertambah saat ini. Apalagi Bed Occupancy Rate(BOR) atau keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan juga terus meningkat.

"Pemakaian [oksigen] tiga kali lipat ya jadi cepat habis karena kasusnya meningkat," jelasnya beberapa waktu lalu.

 Pembajun menyebutkan, saat ini banyak prosedur penanganan Covid-19 yang tidak dipahami masyarakat. Banyak pasien yang mestinya bisa ditangani di tingkat puskesmas ternyata malah dievakuasi ke rumah sakit rujukan Covid-19. Akibatnya pemakaian oksigen medis di rumah sakit rujukan meningkat berkali lipat.

"Kalau [pasien covid-19] yang ringan kalau sudah sampai di IGD kan rumah sakit nggak bisa nolak," imbuhnya.

Sementara itu untuk mengatasi krisis oksigen yang terjadi di DIY, Pemda DIY mengungkapkan telah mendapat konfirmasi akan ada tambahan kiriman oksigen cair 47,6 ton per hari dari pemerintah pusat. Pemerintah pusat juga menyediakan oksigen cair tambahan sebanyak 50 persen dari 47,6 ton, yang digunakan untuk cadangan. .

Baca Juga: DPRD DIY Desak Pemda Bantu Pasien Isoman: Jangan Terkesan Lempar-lemparan Bola

"Dengan ditambahnya pasokan oksigen dapat mencukupi kebutuhan rumah sakit rujukan Covid-19 maupun rumah sakit non rujukan Covid-19," terang Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Minggu (4/7/2021) malam usai rapat dengan pemerintah pusat terkait krisis oksigen di RSUP Dr Sardjito.

Bandung hingga Surakarta juga krisis oksigen

Selain mengabarkan perihal krisis oksigen dan kematian 63 pasien di Jogja, media BBC juga melaporkan mengenai situasi serupa yang dihadapi di sejumlah kota besar di Indonesia, di antaranya Bandung dan Surakarta.

Pada hari Senin, dua rumah sakit di kota Bandung mengumumkan bahwa mereka kehabisan oksigen, dan harus menolak pasien baru yang mencari perawatan darurat.

Selama akhir pekan, layanan darurat dan unit perawatan intensif rumah sakit umum di kota Bandung, Surakarta, dan Pamekasan mengatakan mereka terpaksa harus menolak pasien lantaran sudah penuh.

"Ini darurat seperti perang," kata seorang wanita yang mencari perawatan untuk ibunya yang sudah lanjut usia kepada layanan BBC Indonesia.

Ibunya pertama kali ditolak di rumah sakit yang kehabisan tempat tidur, dan hanya bisa dirawat di tenda darurat di rumah sakit lain.

Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bandung, IGD pasien Covid-19 ditutup per 2 Juli lalu, dengan kekurangan oksigen menjadi salah satu penyebabnya.

"Empat hari lalu, terjadi kekurangan pasokan oksigen dari distributor dan vendor," kata kepala rumah sakit Mulyadi kepada BBC, akhir pekan lalu.

Dia menambahkan bahwa produsen berjuang untuk memenuhi peningkatan permintaan dari rumah sakit.

"Setiap hari banyak yang datang, 10 sampai 15 pasien Covid-19, banyak yang antre," kata dokter Syaiful Hidayat di RS Pintar Pamekasan kepada BBC.

Sementara itu, pejabat Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan mereka telah meminta industri gas untuk meningkatkan produksi oksigen medis dan mengimbau masyarakat untuk tidak menimbun.

"Kami berharap orang-orang tidak menimbun oksigen," katanya, seraya menambahkan bahwa ini hanya akan memperburuk kekurangan bagi orang lain.

Komentarnya muncul ketika orang-orang mencoba mengamankan tabung oksigen secara pribadi untuk merawat pasien di rumah.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait