alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Pelaku Wisata Gunungkidul Kibarkan Bendera Putih, Terpaksa Jual Mobil dan Motor Demi Hidup

Galih Priatmojo Sabtu, 31 Juli 2021 | 17:30 WIB

Pelaku Wisata Gunungkidul Kibarkan Bendera Putih, Terpaksa Jual Mobil dan Motor Demi Hidup
bendera putih yang dikibarkan para pelaku wisata di Gunungkidul lantaran terdampak PPKM. [Kontributor / Julianto]

Para pelaku wisata di Gunungkidul sudah hampir sebulan tidak beroperasi

SuaraJogja.id - Para pelaku wisata di Pantai Selatan Kabupaten Gunung Kidul mulai mengibarkan bendera putih. Pahlawan Pendapatan Asli Daerah (PAD) ini mengaku sudah putus asa dengan kondisi yang membuat hidup mereka kian terjepit.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Nasyarakat (PPKM) yang dilaksanakan oleh pemerintah membuat mereka semakin terpuruk. Jumlah pemilik usaha mulai mengibarkan bendera putih tersebut terlihat di Pantai Baron ataupun di Pantai Indrayanti 

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Baron, Awanto Subaryono mengaku sengaja mengibarkan bendera putih, karena sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk tetap bertahan hidup di tengah pandemi covid-19 seperti sekarang ini. Penutupan semua objek wisata membuat usaha mereka mati.

"Sudah satu bulan kami tidak mendapat penghasilan,"paparnya, Sabtu (31/7/2021).

Baca Juga: Tingkat Kematian Pasien Isoman Tinggi, Pemkab Gunungkidul Aktifkan Shelter Wanagama

Sejumlah perahu nelayan di Gunungkidul rusak dihantam gelombang tinggi, Rabu (26/5/2021). [Kontributor / Julianto]
Ilustrasi aktivitas pelaku wisata di pantai Gunungkidul. [Kontributor / Julianto]

Di satu sisi mereka harus tetap bertahan hidup. Bagi mereka yang yang memiliki lahan sementara beralih bercocok tanam ataupun menekuni profesi yang lain. Tetapi bagi mereka yang menggantungkan hidupnya hanya dari sektor pariwisata tentu harus memutar otak untuk tetap bertahan hidup.

Satu-satunya cara adalah dengan menjual aset yang mereka miliki. Bahkan penjualan aset mereka pun kini sudah tidak mampu lagi untuk membiayai hidup mereka. Sebagian besar dagangan merekapun kini sudah ludes untuk dikonsumsi sendiri.

Di Pantai Baron saat ini ada 560 orang pedagang yang selama ini aktif menjajakan dagangannya. Mereka kian terjepit karena pemerintah tidak pernah memberikan solusi terkait dengan kebijakan-kebijakan larangan untuk berwisata. Pemerintah seolah melakukan pembiaran terhadap para pelaku wisata untuk bertahan hidup.

" bantuan itu sama sekali belum pernah kami terima hanya dulu sekali waktu Lockdown awal dulu. Itu bantuannya beras dan minyak setelah itu tidak ada sama sekali,"tuturnya.

Di Pantai Baron pedagang atau pengusaha yang tergabung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran  Indonesia (PHRI) semuanya telah mengibarkan bendera putih. Sementara yang tergabung dalam pokdarwis memang baru beberapa yang memasang bendera putih.

Baca Juga: Dihantam Gelombang Tinggi, Sejumlah Warung Di Pantai Selatan Gunungkidul Rusak

Awanto juga mengaku banyak mendapat keluhan dari pokdarwis-pokdarwis lain yang ada di Gunung Kidul. Mereka mengancam akan melakukan aksi turun ke jalan Jika pemerintah tidak memberikan solusi kepada para pelaku wisata.

"Kita tunggu tanggal 2 (Agustus) nanti, katanya tidak diperpanjang (PPKM). Kalau diperpanjang ya kita terpaksa turun ke jalan,"terangnya.

Jual Mobil dan Motor

Hal yang sama juga dilakukan oleh pengusaha di Pantai Indrayanti. Salah satu yang mengibarkan bendera putih adalah Restoran Indrayanti yang dimiliki oleh Arif Rahman, laki-laki yang pertama kali membuka objek wisata pantai Indrayanti.

Arif Rahman mengatakan pengibaran bendera putih tersebut sebagai bentuk keprihatinan terhadap kebijakan pemerintah yang telah menutup semua objek wisata di tanah air. Pemerintah tidak pernah memberikan solusi si kepada para pelaku wisata.

" Sudah 2 tahun ini kita merasakan dampak pandemi yang begitu luar biasa. Diperparah lagi dengan adanya PPKM darurat ataupun PPKM level 3 dan 4,"ujar dia.

Selama pandemi covid 19 berlangsung dalam kurun waktu 2 tahun ini pihaknya masih terus berusahab ertahan dengan melakukan beberapa efisiensi. Semakin menurunnya kunjungan wisatawan juga berimbas kepada pendapatan para pengusaha.

Pihaknya terpaksa melakukan efisiensi dengan cara memberlakukan sistem shift terhadap para pekerja. 22 orang pekerja akan bekerja dalam shift dengan pendapatan tentu hanya separuhnya dari kondisi normal. Namun sejak ppkm diberlakukan oleh pemerintah sebulan lalu semua pekerja telah ia istirahatkan.

Suasana pantai di Gunungkidul saat liburan Natal dan Tahun Baru di hari pertama masih sepi pengunjung, Kamis (24/12/2020). [Kontributor / Julianto]
Suasana pantai di Gunungkidul saat liburan Natal dan Tahun Baru di hari pertama masih sepi pengunjung, Kamis (24/12/2020). [Kontributor / Julianto]

"Kita sebisa mungkin tidak melakukan pemecatan. Mau bekerja di mana mereka, sementara ya hanya kita liburkan,"kata dia.

Selama pandemi covid 19 untuk bertahan hidup Arif mengaku telah menjual beberapa asetnya diantaranya mobil dan sepeda motor kesayangannya. Hal itu terpaksa ia lakukan hanya untuk bertahan hidup dan bisa membantu menghidupi karyawan yang telah bekerja kepada dirinya.

Arif berharap agar pemerintah segera membuka kembali pintu pariwisata. Karena hanya itulah jalan satu-satunya untuk menolong para pekerja di sektor pariwisata. Sebab bagaimanapun sektor pariwisata menjadi penyumbang PAD terbesar di Gunungkidul.

Kontributor : Julianto

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait