Siasat Merebut Ruang Publik: Dibungkam di Bawah Jembatan Kewek

tindakan aparat menghapus mural Dibungkam yang ada di jembatan kewek beberapa waktu lalu viral.

Galih Priatmojo | Muhammad Ilham Baktora
Sabtu, 28 Agustus 2021 | 15:03 WIB
Siasat Merebut Ruang Publik: Dibungkam di Bawah Jembatan Kewek
Seorang pengendara melintas di depan coretan Dibungkam di Jalan Nitikan Baru, Umbulharjo, Kota Jogja, Jumat (27/8/2021). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]

Lebih lanjut, kegiatan ini tidak hanya reaksi atas munculnya tindakan aparat menghapus ekspresi dan pendapat masyarakat dari sebuah mural. Namun baginya, hal ini untuk mengembalikan dan membangun kesadaran orang-orang dengan dugaan penindasan yang terjadi.

Mural di salah satu gang Kampung Ki Mangunsarkoro, Pakualaman, Kota Jogja, Jumat (27/8/2021). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]
Mural di salah satu gang Kampung Ki Mangunsarkoro, Pakualaman, Kota Jogja, Jumat (27/8/2021). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]

“Mungkin lebih ke membangun kesadaran dan membangun persatuan untuk melawan penindasan. Seperti itu kurang lebih,” katanya.

Bukan uang, hadiah yang ditawarkan oleh penyelenggara. Melainkan barang-barang seperti sepatu, buku, bahkan pernak-pernik unik menjadi hadiah bagi peserta.

“Jika uang, itu membuat buta. Hadiah yang kami berikan nanti kepada mereka semuanya barang,” singkatnya.

Baca Juga:Ramai Soal Penghapusan Mural di Jembatan Kewek, Begini Respon Walikota Jogja

Sayembara lomba itu, menurut Enka, Seniman Jogja 27 tahun yang juga cukup banyak berkolaborasi dengan seniman luar Negeri seperti Portland, Amerika Serikat dan Australia itu tidak salah. Bisa jadi menggairahkan kembali seniman street art Jogja, bahkan seluruh Indonesia untuk bersenang-senang.

Namun hal yang perlu diperhatikan adalah karya yang mereka kirim harus benar-benar orisinil. Tak menutup kemungkinan peserta hanya ingin ikut-ikutan, dan mencomot karya orang lain tanpa ada izin lalu dibuat ulang tanpa mengulik arti dari si pembuat.

“Ya itu yang perlu diperhatikan teman-teman nanti ketika ikut lomba. (Orisinil karya) yang saya garis bawahi,” terang dia.

Samuel: Itu perebutan ruang publik yang lumrah

Seniman yang kondang namanya di lingkungan mural Jogja, Samuel Indratma melihat bahwa munculnya mural atau seni jalanan itu dipicu adanya perebutan ruang publik di wilayah daerah termasuk kota. Ruang-ruang kota kerap jadi sasaran untuk mengekspresikan karya mural lantaran medium nan murah serta efektif diakses publik.

Baca Juga:Mural di Jembatan Kewek Dihapus Aparat, Seniman Sebut Kurang Kerjaan

Pendiri Jogja Mural Forum (JMF)  ini menyebut pada medio 1997-2000 perebutan ruang publik seperti yang terjadi di bawah Jembatan Kewek kerap terjadi. Di era itu, sebuah karya seni ditimpa oleh korporat dan ditutup merupakan sesuatu yang lumrah karena menurutnya termasuk bagian dari dinamika kota.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak