alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Malioboro Ramai Wisatawan, GKR Bendara: Belum Bisa Jadi Tolok Ukur Kebangkitan Pariwisata

Eleonora PEW | Rahmat jiwandono Jum'at, 22 Oktober 2021 | 09:19 WIB

Malioboro Ramai Wisatawan, GKR Bendara: Belum Bisa Jadi Tolok Ukur Kebangkitan Pariwisata
Ketua BPPD DIY GKR Bendara dan Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono hadir sebagai narasumber dalam FGD "Jogja Bangkit dari Pandemi?", Kamis (21/10/2021).

Tingkat okupansi hotel-hotel di Kota Wisata ini juga belum pulih total.

SuaraJogja.id - Pemerintah pusat menurunkan level PPKM di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dari 3 ke level 2 per 19 Oktober 2021 kemarin. Itu tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 53 Tahun 2021 tentang PPKM level 3, 2, 1.

Dengan demikian, pemerintah daerah maupun pemerintah kabupaten di DIY akan memberi kelonggaran-kelonggaran. Salah satunya di sektor pariwisata. Ini bisa dilihat dari kawasan Malioboro, Kota Jogja yang mulai diserbu wisatawan.

Menurut Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY GKR Bendara, hal tersebut belum bisa menjadi tolok ukur kebangkitan pariwisata di DIY. Pasalnya, yang berkunjung ke Malioboro bukan hanya wisatawan melainkan juga warga asli DIY.

"Memang sudah mulai ramai, tapi belum bisa diakatakan pulih (sektor wisata). Karena orang jogja pun pergi ke Malioboro," kata GKR Bandara saat menjadi pembicara dalam Focus Group Discussion (FGD) "Jogja Bangkit dari Pandemi?" yang diadakan oleh Suara.com pada Kamis (21/10/2021).

Baca Juga: PPKM Sumsel Naik Level, Penyebabkan Karena Hal Ini

Lebih lanjut ia mengatakan, tingkat okupansi hotel-hotel di Kota Wisata ini juga belum pulih total. Kendati objek-objek wisata perlahan mulai dibuka kembali.

Disinggung mengenai persiapan pembukaan obwis, katanya, saat ini pengelola wisata sedang mengurusnya agar mendapat sertifikat kebersihan, kesehatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan (CHSE). Pihaknya mendorong setiap obwis mendapat sertifikat CHSE.

"Dan sekarang efeknya terjadi antrean yang cukup panjang untuk perizinan CHSE. Jadi ini sedang menunggu paling tidak barcode PeduliLindungi bisa segera sampai ke obwis," terang putri bungsu dari Raja Yogyakarta ini.

Diakuinya, walau terdapat beberapa obwis yang terkendala sinyal. Untuk itu, Dinas Pariwisata baik di kabupaten atau kota akan memberikan diskresi.

"Kalau mengalami kendala saat memindai barcode PeduliLindungi maka sudah ada alternatif lain lewat VisitingJogja. Ini salah satu contoh yang kami coba gerakkan supaya lebih cepat buka," papar dia.

Baca Juga: Maladministrasi, ORI DIY Minta Sultan Tinjau Ulang Pergub Larangan Demo di Malioboro

GKR Bendara menilai bahwa dari sisi persiapan protokol kesehatan sudah cukup bagus. Sejak awal pandemi mereka memperketat prokes.

"Karena kalau prokesnya enggak diperketat maka tempat wisata tidak diizinkan buka. Semua staf dari obwis pun sudah harus divaksin Covid-19 sebanyak dua kali," tambahnya.

Sembari menunggu dibukanya obwis, pelaku wisata sudah mulai bersiap-siap.

"Sudah banyak obwis yang akan buka. Sudah tahap reresik (bersih-bersih) karena sudah tutup beberapa bulan akibat adanya PPKM," katanya.

Selain itu, pihaknya juga sudah koordinasi dengan kereta api dan maskapai penerbangan. Ia menyebut, kedua moda transportasi tersebut akan menambah jumlah gerbong dan penerbangan.

"Untuk maskapai Garuda yang tadinya penerbangan ke Jogja hanya lima kali dalam seminggu, akan ditambah menjadi tujuh kali. Sehingga akan lebih banyak wisatawan yang datang ke Jogja," ucapnya.

Alasan pemilihan dua moda transportasi itu guna mendongkrak kunjungan wisatawan, menurutnya, penerapan prokesnya sudah cukup ketat.

"Orang yang naik kereta atau pesawat kan sudah harus wajib vaksin dan bisa menunjukkan surat keterangan bebas Covid-19. Harapannya saat mereka datang dan pulang aman (tidak terjangkit Covid-19)," katanya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait