- P. Brooshoof, ia seorang redaktur surat kabar De Lokomotif. Pada 1901 ia menulis buku berjudul De Ethische Koers In de Koloniale Politiek (Tujuan Ethis dalam Politik Kolonial)
- Van Vollen Hoven, ia merupakan tokoh yang memperdalam hukum adat di beberapa suku bangsa Indonesia
- F. Holle, ia tokoh yang banyak membantu para petani Indonesia
- Leivegoed, seorang jurnalis yang sering menulis tentang rakyat Indonesia
- Abendanon, ia merupakan tokoh yang benyak memikirkan pendidikan penduduk pribumi
- Douwes Dekker, ia menulis kritikan terhadap pelaksanaan tanam paksa di Lebak, Banten lewat bukunya yang berjudul Max Havelaar
- Van Kol, tokoh yang sering kali menulis tentang keberadaan pemerintah Belanda.
Politik etis mempunyai sejumlah tujuan utama, diantaranya:
- Meningkatkan edukasi di bidang penyelenggaraan pendidikan
- Membuat irigasi yang bertujuan membangun sarana serta jaringan pengairan
- Transmigrasi dan imigrasi. Hal ini bertujuan untuk mengorganisasi perpindahan penduduk
Sementara itu, manfaat yang bisa diperoleh dari politik etis yakni:
- Munculnya kalangan terpelajar di Indonesia
- Saluran irigasi banyak yang diperbaharui
- Hasil produksi petani meningkat
- Persebaran penduduk ke sejumlah tempat atau merata
Dalam catatan sejarah, ada beberapa isi atau penerapan dari politik etis, yakni:
1. Bidang Pendidikan
Pendidikan kelas satu diberikan untuk anak-anak pegawai negeri dan orang yang berkedudukan dan bertahta. Mata pelajaran yang diajarkan seperti membaca, menulis, berhitung, sejarah, ilmu alam dan lain-lain. Pendidikan kelas dua khusus untuk anak-anak pribumi golongan bawah.
Baca Juga:Loyalis Anas Urbaningrum Bentuk PKN, Demokrat Pede Tak Bakal Digembosi
2. Bidang Irigasi
Pemerintah membangun irigasi sejak 1885 dengan luas 96.000 bau untuk digunakan irigasi Berantas dan Demak. Pada 1902 luasnya menjadi 173.000 bau. Dengan seperti itu tanah menjadi subur dan produksinya bertambah.
3. Bidang Transmigrasi
Adanya transmigrasi tanag-tanah di luar Jawa yang belum diolah menjadi perkebunan, akan diolah agar menambah penghasilan. Selain itu juga bisa mengurangi kepadatan pulau jawa saat itu.
Migrasi dari Jawa ke Sumatera Utara karena adanya permintaan besar tenaga kerja perkebunan, terutama di Deli. Sedangkan dari Jawa ke Lampung untuk menetap, bukan bekerja.
Meski banyak berdampak positif bagi Indonesia, namun penerapan politik etis terdapat sejumlah penyimpangan. Diantaranya:
1. Pendidikan
Pembanguan sekolah dilakukan, namun tujuannya untuk mendapatkan tenaga administrasi yang cakap dan ramah. Terjadi diskriminasi pendidikan antara anak pegawai negeri dengan orang tidak mampu.
Baca Juga:Ada Dugaan Politik Uang, HMI Minta KPK Selidiki Penetapan Wabup Bekasi
2. Irigasi
Meski ada perbaikan irigasi, namun pengairan hanya digunakan untuk tanah-tanah subur di perkebunan milik swasta Belanda. Sedangkan milik rakyat tidak dialiri.