facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Cerita Guru SDIT Asal Pandak Bantul Lulus S2 dengan IPK 4,00

Eleonora PEW | Rahmat jiwandono Minggu, 28 November 2021 | 17:56 WIB

Cerita Guru SDIT Asal Pandak Bantul Lulus S2 dengan IPK 4,00
Dita Ardwiyanti (25) program studi (prodi) Magister Pendidikan Sains di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang mendapat IPK 4,00. - (SuaraJogja.id/HO-Dita)

Dita bercerita, sejak masih menempuh S1 pada prodi Pendidikan IPA FMIPA UNY tahun 2013-2017 sudah mendapat beasiswa Bidikmisi.

SuaraJogja.id - Dita Ardwiyanti (25), asal Pedukuhan Gedongsari, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, mendapat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00. Dia baru saja lulus dari program studi (prodi) Magister Pendidikan Sains di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Sabtu (27/11/2021) kemarin.

Dita bercerita, sejak masih menempuh S1 pada prodi Pendidikan IPA FMIPA UNY tahun 2013-2017 sudah mendapat beasiswa Bidikmisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pernah pula meraih indeks prestasi sempurna 4,00.

Dita adalah anak pasangan Sarjiyono yang berprofesi sebagai tukang las. Sedangkan Arfina, seorang ibu rumah tangga.

Menurut gadis kelahiran Pontianak itu, proses belajar jenjang magister jauh berbeda dengan jenjang sarjana.

Baca Juga: Nadiem Makarim Diminta Memihak Para Guru Honorer

“Saat sarjana, dosen masih memberikan ‘rel’ bagi kami untuk mengembangkan diri. Namun pada jenjang magister, kami benar-benar dituntut untuk menjadi pemikir bebas yang independen tapi bertanggung jawab” katanya, Minggu (28/11/2021).

Kapabilitas meramu pengetahuan dari berbagai sumber ilmu secara mandiri mutlak diperlukan. Oleh sebab itu, mulai dari semester 1 dia mendisiplinkan diri untuk membaca hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal nasional dan internasional setiap harinya.

Kemudian artikel tersebut diringkas dengan bahasa sendiri dan dituliskan dalam buku khusus. Ternyata strategi belajar yang demikian membantunya dalam perkuliahan, khususnya dalam meniti jalan untuk publikasi melalui jurnal dan seminar karena publikasi adalah tuntutan primer mahasiswa magister.

"Saya sudah mengikuti dan menerbitkan artikelnya pada dua seminar nasional, tiga seminar internasional, dan satu jurnal nasional terakreditasi Sinta 2," paparnya.

Ia mengungkapkan bahwa untuk meraih gelar magister harus memiliki bekal yang cukup yaitu kemauan untuk terus belajar. Setiap orang bisa dengan mudah melanjutkan studi ke jenjang magister, tapi tidak semuanya mampu menghayati ‘semangat belajar sepanjang hayat’.

Baca Juga: Kado Hari Guru, PGRI Tanjungpinang Punya Gedung Sekretariat Baru

“Saya hanyalah seorang guru SD. Tidak sedikit orang-orang di sekitar saya berceloteh ‘untuk apa sekolah lagi, toh gelar S.Pd. pun sudah cukup untuk kamu berkarya’” ucap penerima awardee BPI LPDP Republik Indonesia itu.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait