Penjual Gorengan Curhat Diprotes hingga Kehilangan Pembeli, Dampak Minyak Goreng Langka dan Mahal

"Saya menunggu sekitar 15 menit. Saya kira ada minyaknya, setelah tanya ke petugas itu malah kosong."

Eleonora PEW | Muhammad Ilham Baktora
Sabtu, 02 April 2022 | 15:50 WIB
Penjual Gorengan Curhat Diprotes hingga Kehilangan Pembeli, Dampak Minyak Goreng Langka dan Mahal
Ngatilah, penjual gorengan yang kesulitan mencari minyak goreng curah, ditemui wartawan di salah satu distributor, Jalan Bantul, Kelurahan Suryadiningratan, Kemantren Mantrijeron, Kota Jogja, Jumat (1/4/2022). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

SuaraJogja.id - Dua jeriken berukuran lima liter ditentengnya menuju tempat pembelian minyak goreng (migor) curah di salah satu distributor Jalan Bantul, Kelurahan Suryodiningratan, Kemantren Mantrijeron, Kota Jogja, Jumat (1/4/2022).

Ditemani seorang cucunya, wanita 62 tahun ini menunggu sekitar 100 meter dari tempat pendistribusian minyak goreng tersebut.

Sayang, ketika mendekat, pekerja di lokasi itu memberitahu bahwa stok migor curah habis. Pekerja juga menempel pengumuman bahwa migor curah kosong untuk beberapa waktu ke depan.

Pekerja menata drum minyak goreng di salah satu distributor, Jalan Bantul, Kelurahan Suryadiningratan, Kemantren Mantrijeron, Kota Jogja, Jumat (1/4/2022). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)
Pekerja menata drum minyak goreng di salah satu distributor, Jalan Bantul, Kelurahan Suryadiningratan, Kemantren Mantrijeron, Kota Jogja, Jumat (1/4/2022). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

"Saya menunggu sekitar 15 menit. Saya kira ada minyaknya, setelah tanya ke petugas itu malah kosong. Padahal harus jualan gorengan juga hari ini," terang Ngatilah, wanita yang sejak pukul 09.30 WIB ini datang lebih awal untuk mendapatkan migor curah.

Baca Juga:Harga Minyak Goreng Malaysia Lebih Murah, Ini Perbandingan dengan Indonesia

Binar matanya sedikit kecewa lantaran tak mendapat minyak goreng. Kendati begitu dirinya berencana mencari di lokasi lain yang menjual minyak goreng curah di wilayah DI Yogyakarta.

Ngatilah, wanita yang setiap hari menggantungkan hidup dengan berjualan gorengan ini merupakan satu dari sekian masyarakat yang tidak lepas dari minyak goreng. Tanpa itu, warga Bantul ini tak tahu harus memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara apalagi.

Lebih kurang 20 tahun berjualan, Ngatilah cukup nyaman dengan aktivitas di usia senjanya. Munculnya kelangkaan minyak pada Februari 2022 lalu, menjadi rasa gundah yang tak kunjung usai.

"Wah susah mencarinya sekarang (migor curah). Kalau mau pakai migor kemasan harganya tidak cocok. Bahkan saya bisa rugi kalau pakai minyak kemasan karena harganya mahal," kata dia ditenui suarajogja.id, Jumat.

Ngatilah, sehari-hari menjual gorengan di Pasar Telo Karangkajen, Kota Jogja. Sebelum minyak curah langka dan mahal, dia menjual satu gorengan seharga Rp650.

Baca Juga:3 Kriteria Penerima yang Layak Dapat BLT Minyak Goreng Rp 300 Ribu dari Jokowi

Kenaikan harga migor curah yang per liter mencapai Rp18 ribu, harus dibarengi senang menaikkan harga menjadi Rp1.000 per biji.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak