facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Bela Taiwan, Menlu Tuvalu Mengundurkan Diri dari Acara Pembukaan Konferensi Laut PBB di Portugal

Galih Priatmojo Senin, 27 Juni 2022 | 19:41 WIB

Bela Taiwan, Menlu Tuvalu Mengundurkan Diri dari Acara Pembukaan Konferensi Laut PBB di Portugal
Menteri Kehakiman, Komunikasi & Luar Negeri Tuvalu Simon Kofe menyampaikan pidato untuk COP26 sambil berdiri di pinggir laut di Funafuti, Tuvalu, 5 November 2021. (ANTARA/Courtesy Tuvalu's Ministry of Justice, Comm)

Negara pulau kecil di Pasifik dengan 12.000 penduduk itu telah menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan sejak 1979

SuaraJogja.id - Menteri Luar Negeri Tuvalu Simon Kofe mengundurkan diri dari acara pembukaan Konferensi Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Portugal pada Senin gara-gara China menghentikan partisipasi tiga orang Taiwan yang ada dalam daftar delegasi negara kepulauan kecil Pasifik tersebut. 

Menurut laporan oleh Radio New Zealand, Taiwan yang merupakan bagian teritori yang diklaim oleh China, bukanlah anggota dari PBB dan masyarakatnya tak dapat menghadiri acara-acara PBB sebagai representatif Taiwan.

Menlu Tuvalu Simon Kofe mengundurkan diri dari konferensi tersebut usai China mempertanyakan akreditasi dari tiga delegasi asal Taiwan yang berada di dalam delegasi Tuvalu, menurut laporan Radio New Zealand pada Senin.

Negara pulau kecil di Pasifik dengan 12.000 penduduk itu telah menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan sejak 1979, dan merupakan salah satu dari 14 negara di dunia yang terus menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan, alih-alih dengan China.

Baca Juga: Influencer China Ada Aturan Keras Bahas Topik Hukum dan Medis

Secara garis besar, Taiwan tak ikut dalam berbagai organisasi internasional di mana China merupakan anggotanya.

Kofe menarik perhatian dunia untuk negaranya tahun lalu saat dia memberikan pidato dalam sebuah konferensi iklim global sembari berdiri di laut hingga mata kakinya untuk mengilustrasikan bahwa Tuvalu tengah “tenggelam”. Sebanyak 40 persen dari distrik ibu kota negara tersebut berada di bawah air saat ombak pasang, dan negara kecil itu diperkirakan akan tenggelam sepenuhnya di akhir abad ini.

Sekitar 7.000 orang, mulai dari kepala negara hingga para aktivis lingkungan, diperkirakan akan menghadiri konferensi yang dimulai pada Senin itu.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait