Kisah Ndalem Mijosastran, Dulu Dibakar Belanda Kini akan Digusur Proyek Tol Jogja-Bawen

Cagar budaya itu kini bersanding dengan lahan proyek tol Jogja-Bawen yang sudah bersih dan rata tanah.

Galih Priatmojo
Selasa, 19 Juli 2022 | 18:44 WIB
Kisah Ndalem Mijosastran, Dulu Dibakar Belanda Kini akan Digusur Proyek Tol Jogja-Bawen
Salah satu sisi Ndalem Mijosastran, cagar budaya yang akan direlokasi karena terdampak proyek tol Jogja-Bawen, saat disambangi, Selasa (19/7/2022). (kontributor/uli febriarni)

Cerita belum selesai sampai di sana. Widagdo kembali merangkai patahan-patahan sejarah, bahwa rumah yang berstruktur limasan khas Jawa yang ada di seberang rumahnya itu, pernah menjadi pos pejuang kemerdekaan. Tak terkecuali ayahnya ikut andil di sana.

Waktu itu kurun waktu sekitar 1948, rumah yang dibangun oleh eyangnya, Mangundimejo tersebut dibakar oleh Belanda.

Di masa Agresi Militer II, Belanda yang ingin menghancurkan Jogja punya markas di kawasan Cebongan. Mengetahui Ndalem Mijosastro jadi markas musuhnya, maka rumah itu dibumihanguskan.

Hingga kemudian Mijosastro dan istri tercintanya, Rahayu, membangun kembali rumah itu pada 1958. Masa-masa Widagdo cilik masih suka rewel kalau ditinggal bapak ibunya kerja.

Baca Juga:Laga Perdana Tak Mudah, PSS Sleman Tingkatkan Power di Pantai Depok

Rumah itu bukan sekadar cagar budaya semata untuk Wid, --panggilan karib Widagdo--. Tapi ada bagian-bagian rumah yang mengisi pengalaman dan cerita hidupnya sebagai anggota penghuni Ndalem Mijosastran.

Dengan senyum yang tersembunyi di balik maskernya, Wid terkenang saat ia dimomong oleh tukang kayu yang membangun Ndalem Mijosastran.

"Namanya pak Kartorebo. Saya ingat betul dia dulu membangun rumah itu sambil momong saya. Waktu almarhum masih hidup, beliau selalu cerita 'Dulu waktu kamu kecil, saya yang momong'," kenang Wid.

Di dalam rumah mahakarya Kartorebo itu pula, Wid dan tujuh saudara pernah tidur bersama dalam satu amben bambu sederhana. Di salah satu kamar, sisi timur.

Namun spot favorit Wid dari Ndalem Mijosastran adalah pendopo. Bagian yang sarat struktur Jawa kuno dan kerap jadi tempat warga setempat beraktivitas selama ini. Baik itu pengajian, bersih dusun, pelatihan program pemerintah dan lainnya.

Baca Juga:Pelatih PSS Sleman Sebut Laga Perdana Liga 1 Tidak Mudah

Demikian juga halamannya yang luas, kerap dimanfaatkan warga sekitar sebagai lokasi beragam kegiatan hingga area parkir.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak