Rentan Kecelakaan, Tak Ada Perlindungan
Disamping minim pengetahuan tentang manajemen keuangan, para nelayan di DIY terkhusus di kawasan Gunungkidul juga harus menghadapi kenyataan menjalani profesi tanpa perlindungan.
Bila dicermati, sektor perikanan terutama hasil tangkap para nelayan menjadi salah satu penyokong ekonomi di kawasan Gunungkidul.
Mengutip dari data Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, pada tahun 2023 lalu, produksi perikanan tangkap mencapai 4.166 ton. Nilai produksi yang dihasilkan para nelayan itu menyumbang hingga Rp87,1 miliar untuk pendapatan daerah.
Baca Juga:Perahu Terbalik Digulung Ombak, Seorang Nelayan Ditemukan Tewas di Pantai Watulumbung Gunungkidul
Tetapi sayangnya, hasil itu tak sebanding dengan perlindungan yang diberikan untuk para nelayan. Masih dari data Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, disebutkan pada 2024 ini, jumlah nelayan yang meninggal dunia akibat kecelakaan laut mengalami kenaikan signifikan. Ironisnya, mereka tak mendapatkan asuransi terkait kecelakaan kerja.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul, Wahid Supriyadi mengakui jika angka kecelakaan laut yang mengakibatkan nelayan meninggal dunia tahun ini lebih banyak dibanding tahun lalu. Tahun ini, pihaknya mencatat ada 5 kasus kecelakaan laut yang mengakibatkan nelayan meninggal dunia.
"Ya kalau tahun ini ada lima, tahun lalu di bawah itulah," kata Wahid tanpa menyebut angka pasti jumlah kecelakaan laut tahun lalu, Jumat (15/11/2024).
Dia mengakui jika saat ini memang belum ada nelayan yang mendapatkan bantuan asuransi. Untuk asuransi jaminan kecelakaan kerja dan kematian dilaksanakan secara mandiri oleh masing-masing nelayan dikoordinir oleh kelompok di masing-masing titik pendaratan ikan.
Wahid mengaku terbatasnya APBD membuat Pemkab Gunungkidul belum dapat memberi bantuan premi asuransi jaminan kecelakaan kerja dan kematian terhadap para nelayan.
Baca Juga:Peneliti UGM Sebut Temuan Gua di Gunungkidul Tak Bahayakan JJLS
"Ya, keterbatasan APBD menjadi musababnya," tambahnya.