- Johnson Marhasak Lumbantobing, pencipta lagu "Darah Juang", meninggal dunia pada Rabu (25/2/2026) malam di RSA UGM.
- "Darah Juang" diciptakan John Tobing sekitar tahun 1991-1992 di Yogyakarta bersama kolaborasi lirik Dadang Juliantara.
- John Tobing menekankan lagu tersebut dimaksudkan sebagai penyemangat kebanggaan kekayaan bangsa, bukan untuk komersialisasi.
Lirik yang ditulis Dadang dinyanyikan sesuai komposisi nada ciptaannya. Jika ada yang kurang pas, ia berdiskusi dengan Dadang untuk mengganti.
Lagu itu pun sampai ke telinga kawan-kawan aktivisnya di UGM kala itu. "Bagus ini John lagumu," puji mereka. Namun, pengubahan lirik masih terus berjalan.
Kawan-kawan John Tobing, termasuk Budiman Sudjatmiko, membantu menambah, mengurangi, dan menentukan diksi, serta memberikan judul untuknya.
"Tuhan, relakan darah juang kami untuk membebaskan rakyat," bunyi salah satu penggalan lagu itu. "’Bunda’ aja, John," usul Budiman. John Tobing masih berpikir.
Baca Juga:5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
"Kebanyakan 'Tuhan'-mu, John," kata Budiman lagi, tak sabar. "Iya, bunda, bunda, bunda," jawab John Tobing, akhirnya setuju. Hingga hampir 30 tahun kemudian, ia masih terus mengingat kedekatannya dengan sahabatnya itu, yang kini menjadi politikus PDI Perjuangan dan kerap berseliweran di layar kaca.
"Kenapa Bang John suka pakai kata 'Tuhan'?" tanyaku. "Iya karena kalau aku mengeluh, mengeluhnya ya sama Tuhan. 'Tuhan, dengar, Tuhan.' Ini kan aku mengeluh sebetulnya," jawab ayah tiga anak ini.
Fenomena "Darah Juang" yang Tak Disangka
Ketika ditanya tujuan dibuatnya "Darah Juang", John Tobing tak langsung menyebut untuk menurunkan Soeharto. "Pertama aku bikin lagu itu, mengatakan, 'Hai semua kawan-kawanku di Indonesia, tahu enggak kalian bahwa kita ini kaya raya? Tetapi kita dibodohi sama pemerintah, sehingga kita jadi enggak ngerti bahwa kita ini kaya.' Itu yang aku mau katakan," jawabnya.
Yang mengejutkan, John Tobing tak tahu lagunya dinyanyikan saat demo besar menumbangkan Soeharto.
Baca Juga:Saling Jaga di Tengah Keterbatasan: Rutinitas Kakak Beradik Mencari Rezeki Demi Keluarga Sejak Dini
"Aku enggak tahu itu ternyata dinyanyikan pas demo menjatuhkan Soeharto. Ya kalau dia dijatuhkan dengan laguku itu ya, bagus," katanya sambil tersenyum kecil.
"Aku tahunya 2010 itu. Lama sekali kan? Aku dikasih tahu, 'John, mergo lagumu iki, Soeharto i tiba. Wuakeh wong tekan atap DPR kuwi nyanyi lagumu "Darah Juang" kuwi, makane Soeharto tiba.' (Karena lagumu ini, Soeharto jatuh. Banyak sekali orang sampai ke atap DPR itu nyanyi lagumu "Darah Juang" itu, makanya Soeharto jatuh). 'Mosok iyo sih?' (Masak iya sih?)," tutur John Tobing, menggunakan dialek khasnya saat berbahasa Jawa. "Nah dari situ aku mikir, bangsat, ternyata laguku, baru aku tahu," ia tertawa lagi.
Saat demo 1998, John Tobing dan keluarganya berada di Pekanbaru, baru pindah ke Jogja pada 2010.
Perjalanan Musik dan Filosofi Hidup
Kesukaan bermusik tumbuh dalam diri John Tobing kecil sejak kelas V SD. Tanpa guru dan buku, ia belajar sendiri. "Orang Batak kan harus pintar main gitar, harus pintar nyanyi," kata Dona. "Enggak gitu ah," sahut John Tobing sambil tertawa.
Gitar pertama didapatnya dengan "merayu" orang tua. "Bapakku bilang begini, 'Enggak usah dikasih uang jajan sampai kuliah, sampai selesai kau mau?' 'Ya, sampai selesai.' Jadi kelas 5 SD sampai kuliah itu aku enggak dapat uang jajan. Aku tanda tangan di atas materai," kenang anak ketiga dari delapan bersaudara itu. Gitar itu membuahkan lagu pertamanya, "Oh Manusia", tentang kesalahan manusia dan pentingnya bertobat.