Waduh! Kasus Bunuh Diri di Yogyakarta Makin Mengkhawatirkan, Kesehatan Mental Jangan Dianggap Remeh

Tingginya kasus bunuh diri di DIY menyoroti krisis kesehatan mental. Hipnoterapi ilmiah diusulkan sebagai intervensi pelengkap, didukung kolaborasi UGM & IHC.

Budi Arista Romadhoni
Senin, 30 Maret 2026 | 08:50 WIB
Waduh! Kasus Bunuh Diri di Yogyakarta Makin Mengkhawatirkan, Kesehatan Mental Jangan Dianggap Remeh
Ilustrasi kesehatan mental. (Unsplash/Priscilla Du Preez)
Baca 10 detik
  • DIY mencatat 67 kasus bunuh diri sepanjang 2025, menandakan tantangan serius kesehatan mental di wilayah tersebut.
  • Sebelum bunuh diri, banyak individu menunjukkan perilaku melukai diri sendiri akibat rasa sakit psikologis yang mendalam.
  • UGM berkolaborasi dengan Indonesian Hypnosis Centre untuk memperkuat legitimasi ilmiah hipnoterapi sebagai intervensi pelengkap.

SuaraJogja.id - Kasus bunuh diri yang terus bermunculan di Yogyakarta menjadi peringatan serius bagi berbagai pihak tentang pentingnya penguatan layanan kesehatan mental. Data Dinas Kesehatan DIY menunjukkan sepanjang tahun 2025 terdapat 67 kasus bunuh diri di DIY.

Kasus serupa juga masih terjadi pada 2026, dengan dua peristiwa gantung diri yang dilaporkan pada awal tahun ini. Terakhir salah seorang mahasiswa gantung diri di kos pada awal Maret 2026 lalu. Angka tersebut menunjukkan persoalan kesehatan mental di wilayah ini masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian bersama.

"Pada saat seseorang melakukan bunuh diri, biasanya mereka sudah merasa hidupnya selesai. Ada rasa sakit yang sangat dalam secara psikis yang tidak bisa mereka tanggung," papar Direktur Indonesian Hypnosis Centre, Avifi Arka di Fakultas Psikologi UGM, Sabtu (28/3/2026).

Menurut Avifi, sebelum sampai pada tindakan bunuh diri, banyak individu terlebih dahulu mengalami perilaku melukai diri sendiri atau self-harm. Hal itu terjadi karena rasa sakit psikologis yang dialami terlalu berat sehingga dialihkan menjadi rasa sakit secara fisik.

Baca Juga:WFA Pasca Lebaran 2026 Diberlakukan, 36 Ribu Pemudik Masuk ke Jogja

Sebab ketika seseorang tidak mampu menanggung rasa sakit secara psikis, sering kali mereka mengonversinya menjadi sakit fisik dengan melukai diri sendiri. Jika kondisi ini terus berlanjut dan tidak mendapatkan bantuan, maka risiko bunuh diri bisa meningkat.

Kondisi tersebut sebenarnya dapat dicegah sejak awal jika seseorang mendapatkan akses bantuan psikologis yang memadai. Bantuan itu bisa melalui konselor, psikolog, psikiater, maupun hipnoterapis.

Selain pendekatan psikologi dan psikiatri yang selama ini dikenal masyarakat, hipnoterapi dinilai dapat menjadi salah satu alternatif intervensi untuk membantu menekan angka kematian akibat masalah psikologis tersebut.

"bunuh diri umumnya berawal dari luka batin dan tekanan psikologis yang sangat dalam sehingga seseorang merasa tidak mampu lagi menanggung beban emosionalnya," tandasnya.

Avifi menjelaskan, ketika seseorang mengalami gangguan mental, terdapat beberapa tahapan yang dapat dilakukan. Pertama adalah validasi diri, yakni mengakui perasaan yang sedang dialami seperti sedih, takut, atau terluka secara mental. Kedua, berbagi cerita atau curhat kepada orang yang dipercaya agar beban emosional dapat berkurang.

Baca Juga:Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis

Jika kedua langkah tersebut belum cukup, maka individu perlu melakukan regulasi diri atau pengelolaan emosi. Namun jika kondisi masih belum membaik, konsultasi dengan tenaga profesional menjadi langkah yang sangat penting.

"Jika sudah berat, tentu harus ke psikolog klinis atau psikiater. Namun hipnoterapis juga bisa menjadi salah satu pilihan untuk membantu proses pemulihan mental," katanya.

Ia menilai salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kesehatan mental di Indonesia adalah keterbatasan akses terhadap tenaga profesional. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 288 juta jiwa, jumlah psikolog dinilai masih sangat terbatas.

"Jumlah dokter sekitar 300 ribu orang, sementara psikolog hanya sekitar tiga ribu. Ini tentu tidak cukup untuk menjangkau seluruh masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan mental," ungkapnya.

Akibat keterbatasan tersebut, Avifi menyebut lebih dari 90 persen masyarakat belum memiliki akses memadai terhadap layanan kesehatan mental.

"Banyak orang bingung harus pergi ke mana ketika menghadapi masalah psikologis yang berat. Karena itu kita membutuhkan lebih banyak tenaga yang mampu membantu masyarakat," jelasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak