- DIY mengalami kepadatan lalu lintas arus balik Lebaran 2026 karena pola pergerakan masyarakat yang tersebar dalam beberapa hari.
- Dishub DIY menerapkan manajemen rekayasa lalu lintas situasional, termasuk sistem satu arah fleksibel di Malioboro dan jalur wisata.
- Penanganan kemacetan juga melibatkan pemantauan data real-time, koordinasi lintas sektor, dan optimalisasi transportasi umum di Yogyakarta.
SuaraJogja.id - Kepadatan lalu lintas terjadi hampir di seluruh wilayah DIY pada masa arus balik Lebaran 2026. Pola arus balik yang berubah signifikan akibat kebijakan work from anywhere (WFA) membuat pergerakan masyarakat tidak lagi terpusat pada satu waktu, melainkan tersebar dalam beberapa hari.
Berdasarkan data Smart Province DIY, pergerakan manusia pada Rabu (25/3/2026) dari pukul 00.00-12.00 WIB mencapai 75.309 orang. Dari jumlah itu, pergerakan manusia didominasi di kawasan Malioboro yang mencapai 54.149 orang.
Dampaknya, kemacetan tidak hanya terjadi pada satu wilayah tetapi muncul secara bersamaan di berbagai titik. Untuk mengantisipasi kemacetan dan kepadatan yang kian parah, Dinas Perhubungan (Dishub) DIY menerapkan manajemen rekayasa lalu lintas situasional.
Kepala Dishub DIY, Chrestina Erni Widyastuti, Rabu Siang menyatyakan kondisi tersebut merupakan akumulasi dari seluruh pergerakan kendaraan, baik pemudik, wisatawan, maupun kendaraan lokal yang tercatat melalui sistem traffic counting.
Baca Juga:Ingin Berwisata ke Lereng Merapi saat Libur Lebaran, Simak Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi Sepekan
"Karena pergerakan tersebar, maka penanganannya tidak bisa statis. Kami menerapkan manajemen rekayasa lalu lintas situasional, menyesuaikan kondisi real-time di lapangan," paparnya.
Rekayasa lalu lintas situasional ini menjadi kunci dalam menjaga kelancaran arus di tengah tingginya mobilitas. Dishub DIY menerapkan sejumlah skema yang dapat berubah sewaktu-waktu, tergantung kepadatan di titik tertentu.
Contohnya di kawasan padat seperti Malioboro dan sekitarnya, pengaturan satu arah (one way) diberlakukan secara fleksibel pada jam-jam tertentu untuk mengurai antrean kendaraan.
"Selain itu, akses menuju titik-titik tertentu dapat dibatasi sementara guna mencegah penumpukan," jelasnya.
Tidak hanya di pusat kota, rekayasa serupa juga diterapkan di jalur wisata seperti Kaliurang dan Pantai Parangtritis yang mengalami lonjakan kunjungan selama masa jeda arus balik. Pengaturan kantong parkir terpusat dan penyediaan shuttle menjadi bagian dari skenario untuk mengurangi beban kendaraan di kawasan inti.
Baca Juga:Ribuan Warga Ngalap Berkah Garebeg Syawal, Tradisi Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi
Sementara di titik perbatasan, pendekatan situasional juga diterapkan dengan mempertimbangkan karakteristik arus lalu lintas. Di Prambanan, yang didominasi arus keluar, Dishub fokus memperlancar kendaraan yang meninggalkan wilayah dengan optimalisasi simpang dan pengurangan hambatan samping.
"Kalau di Tempel karena arus relatif seimbang, pengaturan dilakukan lebih dinamis, kemungkinan pengalihan arus dan pengaturan prioritas kendaraan di persimpangan," jelasnya.
Selain rekayasa fisik di lapangan, Dishub DIY juga mengandalkan pemantauan berbasis data dan informasi lalu lintas secara real-time. Posko terpadu diaktifkan untuk memonitor kondisi dan menjadi pusat pengambilan keputusan cepat.
Koordinasi lintas sektor pun diperkuat yang melibatkan kepolisian serta pemerintah daerah di wilayah perbatasan seperti Jawa Tengah. Hal ini penting untuk memastikan rekayasa lalu lintas berjalan selaras antarwilayah.
“Kami juga melakukan penguatan personel di lapangan agar setiap perubahan skema bisa segera diterapkan sesuai kondisi," ungkapnya.
Optimalisasi transportasi umum juga menjadi bagian dari strategi untuk menekan volume kendaraan pribadi. Layanan di Terminal Giwangan dan Stasiun Tugu Yogyakarta ditingkatkan, termasuk penambahan armada dan frekuensi perjalanan.