Efek Konflik Global: Plastik Langka, Pedagang Siomay hingga Penjual Jus Tercekik Biaya Produksi

Harga plastik naik akibat kendala impor global, memaksa pelaku UMKM di Yogyakarta dilema: menaikkan harga jual atau menekan keuntungan demi menjaga daya beli pelanggan.

Budi Arista Romadhoni
Selasa, 07 April 2026 | 18:50 WIB
Efek Konflik Global: Plastik Langka, Pedagang Siomay hingga Penjual Jus Tercekik Biaya Produksi
Mang Kardi, penjual siomay mengaku menaikkan harga dagangannya ditengah naiknya harga plastik, Selasa (7/4/2026). [Suara.com/Putu]
Baca 10 detik
  • Gangguan bahan baku nafta akibat konflik geopolitik memicu lonjakan harga kemasan plastik hingga lebih dari 50 persen secara global.
  • Pelaku usaha kecil di Yogyakarta terdampak kenaikan biaya produksi namun enggan menaikkan harga jual demi mempertahankan jumlah pelanggan.
  • Pemda DIY berupaya memfasilitasi akses bahan baku bagi pedagang untuk meminimalisasi tekanan ekonomi akibat lonjakan harga kemasan plastik tersebut.

SuaraJogja.id - Kenaikan harga kemasan plastik dalam beberapa waktu terakhir hingga lebih dari 50 persen karena gangguan bahan baku impor nafta akibat konflik geopolitik di Timur Tengah akhirnya berdampak pada kehidupan pelaku usaha kecil di Yogyakarta. Pedagang keliling, tukang siomay hingga pelaku usaha sablon plastik kini dihadapkan pada dilema yang sama.

Mereka kebingunan untuk menaikkan harga jual dagangannya atau menahan harga dengan konsekuensi keuntungan yang semakin menipis. Padahal selama ini, penghasilan yang mereka dapat juga terbatas akibat daya beli masyarakat yang menurun.

Sebut saja Mang Kardi (57), penjual siomay keliling yang biasa mangkal di kawasan Jalan Parangtritis. Laki-laki 60-an tahun ini mengaku terpaksa menaikkan harga jual siomay yang ia jajakan setiap hari demi bisa tetap berjualan. Kalau sebelumnya, satu porsi siomay ia jual Rp12.000, namun kini naik menjadi Rp13.000.

"Naiknya cuma seribu rupiah. Kalau dinaikkan terlalu banyak nanti pembeli juga repot gara-gara plastik naik," ujarnya di Yogyakarta, Selasa (4/7/2026).

Baca Juga:Bandara YIA Layani 251 Ribu Penumpang Selama Periode Angkutan Idulfitri 2026

Dalam satu porsi siomay, Mang Kardi menyajikan telur, dua buah siomay, kentang, tahu, dan kubis. Ia mengaku kenaikan harga bukan hanya terjadi pada bahan makanan, tetapi juga pada kemasan plastik yang digunakan untuk membungkus dagangannya.

Harga plastik kertas yang biasa ia gunakan untuk membungkus siomay bahkan melonjak cukup tajam. Jika sebelumnya hanya sekitar Rp25.000 per 100 biji kini harganya mencapai Rp37.000.

"Naiknya hampir setengahnya, padahal harga cabai, telur juga terus naik," ujarnya.

Warga Bantul ini menyebut, kenaikan juga terjadi pada kemasan plastik kresek yang digunakan sebagai pembungkus tambahan. Jika sebelumnya hanya sekitar Rp15.000 per pak maka kini mencapai Rp23.000. 

Yanti, pedagang keliling memiih mengurangi keuntungan agar tetap berjualan akibat naiknya harga plastik," Selasa (7/4/2026). [Suara.com/Putu]
Yanti, pedagang keliling memiih mengurangi keuntungan agar tetap berjualan akibat naiknya harga plastik," Selasa (7/4/2026). [Suara.com/Putu]

Meski ada kenaikan yang cukup signifikan, Mang Kardi mengaku gamang untuk menaikkan harga jual siomaynya. Bila dipaksakan menaikkan harga terlalu tinggi dikhawatirkan pembeli berkurang. Opsi terbaik hanya menaikkan harga jual Rp1.000 per porsi, tidak lebih.

Baca Juga:Misteri Perahu Kosong di Muara Opak: Nelayan Bantul Hilang, Drone Thermal Dikerahkan

"Kalau rugi sih tidak, tapi sekarang keuntungannya diatur supaya tidak rugi saja," ujarnya.

Ia pun hanya bisa berharap harga bahan baku, termasuk plastik dan cabai yang juga ikut naik, bisa kembali stabil. Sehingga dia tetap bisa menghidupi keluarganya.

"Harapannya begitu. Tapi sekarang semuanya naik," katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan Yanti, seorang pedagang makanan keliling yang menjual berbagai menu seperti nasi teri tempe, jus, hingga makanan ringan lainnya. Janda dua anak yang berjualan di kawasan Malioboro ini mengaku kenaikan harga plastik sudah terasa sejak menjelang Ramadan dan semakin terasa setelah Lebaran. 

Berbagai jenis kemasan yang biasa ia gunakan naik drastis. Mulai dari plastik kiloan, cup minuman, hingga botol jus dan thinwall atau kotak makanan.

"Naiknya sampai 40 sampai 60 persen. Plastik sekiloan yang dulu wajarannya Rp3.500 sekarang sampai Rp6.500," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak