- Gangguan bahan baku nafta akibat konflik geopolitik memicu lonjakan harga kemasan plastik hingga lebih dari 50 persen secara global.
- Pelaku usaha kecil di Yogyakarta terdampak kenaikan biaya produksi namun enggan menaikkan harga jual demi mempertahankan jumlah pelanggan.
- Pemda DIY berupaya memfasilitasi akses bahan baku bagi pedagang untuk meminimalisasi tekanan ekonomi akibat lonjakan harga kemasan plastik tersebut.
Ia juga menyebut harga botol plastik untuk minuman melonjak dari sekitar Rp100.000 per ball menjadi Rp158.000. Bahkan beberapa jenis wadah plastik yang biasa ia beli naik lebih tinggi lagi.
"Thinwall yang dulu Rp19.000 atau Rp21.000 sekarang jadi Rp34.000," keluhnya.
Kenaikan harga kemasan membuat biaya produksi usahanya meningkat. Namun Yanti memilih tidak serta merta menaikkan harga jual kepada konsumen karena khawatir pembelinya berkurang.
Untuk makanan dengan pembungkus thinwall, Yanti menaikkan harganya sebesar Rp1.000. Sedangkan harga makanan yang dibungkus plastik kiloan tak dinaikkannya. Buatnya itu sebagai jalan tengah dengan memilih menekan keuntungan agar usaha tetap berjalan meski kadang merugi.
Baca Juga:Bandara YIA Layani 251 Ribu Penumpang Selama Periode Angkutan Idulfitri 2026
"Ada yang saya naikkan, ada yang tidak. Kalau nasi goreng pakai thinwall dari Rp12.000 jadi Rp13.000, kalau teri yang dibungkus plastik kiloan tidak saya naikkan. Kalau saya naikkan semua nanti tidak laku," paparnya.
Meski demikian, ia menegaskan tidak mengurangi porsi makanan yang dijual. Ia memperkirakan pendapatan hariannya memang menurun dibanding sebelumnya, meski tidak sampai separuh.
"Porsinya tetap sama, tidak dikurangi, Pembeli juga butuh makan, saya juga butuh makan. Yang penting usaha tetap jalan dan saya masih bisa makan. Misalnya dulu dapat Rp200.000, mungkin sekarang berkurang sekitar Rp40.000," jelasnya.
Di sisi lain, pelaku usaha yang bergerak di bidang kemasan juga menghadapi tekanan yang sama. Heri Kurniawan, pelaku jasa sablon plastik JumPro asal Sleman, mengaku kenaikan harga plastik sudah mulai terasa sejak sebelum Lebaran. Dia sempat membeli stok lebih banyak ketika pertama kali mendengar kabar kenaikan harga dari para agen.
"Waktu itu sempat mborong dulu untungnya untuk stok," ungkapnya.
Baca Juga:Misteri Perahu Kosong di Muara Opak: Nelayan Bantul Hilang, Drone Thermal Dikerahkan
Menurut Heri, beberapa jenis plastik yang sebelumnya dijual sekitar Rp100 ribu kini bisa mencapai Rp150 ribu bahkan lebih. Di beberapa toko yang bukanlangganannya, harga bahkan lebih tinggi lagi.
"Ada yang sampai Rp170 ribu, bahkan di toko online ada yang Rp180 ribu," ujarnya.
Lonjakan harga ini membuat biaya produksi sablon plastiknya meningkat drastis. Dia pun terpaksa menyesuaikan harga jasa kepada pelanggan meski dengan resiko ditinggalkan pembeli.
Apalagi kenaikan harga kemasan juga membuat beberapa pelanggannya mengurangi jumlah produksi. Pemesanan sablonnya dari pelanggan turun hingga 30 persen.
"Biasanya [pelanggan] pesan 300, sekarang jadi 200," jelasnya.
Heri masih optimis, kebutuhan kemasan plastik tetap tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Sebab saat ini hampir semua produk makanan dan minuman masih bergantung pada plastik sebagai bahan pengemas.