Saat Anggaran BNPB Turun Tajam, Dana Bencana Rp7,3 Triliun Diminta Lebih Mudah Diakses Daerah

Meski anggaran BNPB 2026 menyusut, dana Pooling Fund Bencana (PFB) Rp7,3T dapat dioptimalkan untuk mitigasi dan kesiapsiagaan daerah, serta permudah aksesnya.

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 09 September 2026 | 09:23 WIB
Saat Anggaran BNPB Turun Tajam, Dana Bencana Rp7,3 Triliun Diminta Lebih Mudah Diakses Daerah
Petugas pemadam kebakaran berada di tengah area hutan yang terbakar. (Foto: Pexels/Vadim Braydov)
Baca 10 detik
  • Pakar UMY Rahmawati Husein menyatakan anggaran penanggulangan bencana nasional tetap didukung dana Pooling Fund Bencana sebesar Rp7,3 triliun.
  • Pemerintah daerah didorong memanfaatkan dana Pooling Fund Bencana untuk memperkuat upaya mitigasi dan kesiapsiagaan sebelum terjadi bencana.
  • Rahmawati meminta pemerintah pusat mempermudah akses daerah terhadap dana tersebut guna mengoptimalkan pencegahan risiko bencana.

Akses Dana Perlu Dipermudah

Rahmawati mendorong agar akses daerah terhadap PFB dipermudah sehingga dana tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan mitigasi.

Menurut dia, kesiapsiagaan tidak bisa dibangun hanya dengan mengandalkan anggaran satu lembaga. Dibutuhkan skema pendanaan yang mampu menghubungkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Ia menilai sinergi tersebut menjadi kunci karena risiko bencana tersebar di berbagai wilayah dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda.

Baca Juga:Atasi Kepalaran di Papua Tengah, Kepala BNPB dan Menko PMK Segera Tinjau Langsung

Penguatan kapasitas masyarakat juga harus berjalan beriringan dengan penanganan pascabencana.

Dengan demikian, dana kebencanaan tidak hanya habis ketika bencana datang, tetapi juga dapat digunakan untuk mengurangi potensi kerugian dan korban sebelum bencana terjadi.

BNPB Bukan Satu-satunya Sumber

Rahmawati menegaskan, menyusutnya pagu BNPB tidak otomatis berarti kemampuan pembiayaan bencana nasional ikut berhenti.

Selain BNPB, terdapat anggaran kementerian/lembaga, APBD, dana siap pakai, dan PFB yang dapat menjadi bagian dari skema pembiayaan kebencanaan.

Baca Juga:Hingga 12 Desember 2022 BNPB Catat 3.350 Kejadian Bencana Alam di Indonesia, Paling Banyak Banjir

Namun, menurut dia, seluruh sumber tersebut perlu dikelola secara sinergis agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

Penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian,” katanya.

Karena itu, optimalisasi PFB menjadi penting di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan untuk menghadapi risiko bencana.

Bagi Rahmawati, tantangannya bukan semata bagaimana menyediakan dana ketika bencana terjadi, tetapi bagaimana memastikan sumber pembiayaan yang tersedia dapat bergerak lebih cepat untuk mencegah risiko sebelum berubah menjadi bencana besar.

Dengan PFB yang telah mencapai Rp7,3 triliun dan kebutuhan mitigasi yang terus meningkat, ia mendorong pemerintah memastikan dana tersebut benar-benar dapat diakses dan memberikan dampak nyata bagi daerah serta masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak