Menjemput Rezeki dari Balik Layar Gadget hingga Ujung Canting, Kisah Difabel Bertahan Hidup di Jogja

Widiyaskoro dan Muryati, difabel asal Yogyakarta, kreatif menciptakan peluang usaha mandiri. Lewat digital marketing dan pelatihan batik, mereka berdaya secara ekonomi.

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 16 September 2026 | 16:04 WIB
Menjemput Rezeki dari Balik Layar Gadget hingga Ujung Canting, Kisah Difabel Bertahan Hidup di Jogja
Kaum difabel membatik bersama di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (16/9/2026). [Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi]
Baca 10 detik
  • Widiyaskoro Wibowo mendirikan wadah Difakreasi Mandiri sejak tahun 2023 di Yogyakarta untuk memasarkan produk UMKM difabel secara online.
  • Muryati, seorang penjahit asal Yogyakarta, mengikuti pelatihan membatik pada Rabu, 16 September 2026, untuk menambah penghasilan katering pakaiannya yang sepi.
  • Dinas Sosial DIY berencana memamerkan karya batik para difabel pada peringatan Hari Disabilitas Nasional di Bandara YIA Desember 2026.

SuaraJogja.id - Keterbatasan fisik tidak selalu berarti keterbatasan untuk berkarya. Di tengah akses pekerjaan yang belum selalu ramah bagi penyandang disabilitas, sebagian memilih menciptakan jalan sendiri.

Mereka lebih banyak bekerja dari rumah, memanfaatkan teknologi digital, hingga mencoba keterampilan baru yang bisa menjadi sumber penghasilan di tengah kerasnya kehidupan di Yogyakarta.

Sebut saja Widiyaskoro Wibowo, laki-laki 57 tahun dari Bantul yang mencari rejeki di bidang digital marketing. Dengan kursi roda yang selalu dibawanya, Widiyaskoro ikut membantu teman-teman penyandang disabilitas memasarkan produk mereka di berbagai marketplace.

Sejak 2023, ia mulai serius mempelajari digital marketing karena tak banyak perusahaan yang menerimanya sebagai karyawan. Dari pengalaman tersebut, lahirlah Difakreasi Mandiri, sebuah wadah yang membantu memasarkan produk UMKM karya penyandang disabilitas secara online.

Baca Juga:Permintaan Les UTUL UGM di Jogja Nyaris Setara UTBK, Edufio Jalankan Keduanya

Produk yang dipasarkan beragam. Mulai makanan seperti emping, kerek, kerak nasi, jajanan pasar, hingga rempeyek. Ada pula kerajinan seperti boneka rajut, keset, dan produk berbahan batik.

"Yang pasti semua dibuat oleh teman-teman disabilitas," kata Widiyaskoro dalam membatik bersama 100 difabel di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, dunia digital membuka peluang yang sebelumnya sulit dijangkau. Penyandang disabilitas tidak selalu harus memiliki lapak atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mengenalkan produknya.

"Sebetulnya peluangnya sangat besar. Kita bisa mengangkat nama kita dengan jangkauan yang jauh lebih luas. Kita tidak perlu harus sewa lapak, secara online kita bisa memperkenalkan produk kita," ujarnya.

Bagi Widiyaskoro, persoalannya bukan sekadar bagaimana menghasilkan sebuah produk. Tantangan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut bisa sampai kepada konsumen.

Baca Juga:Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes Ash-Sholihah, Kanwil Kemenag DIY Layangkan Surat Peringatan

Ia melihat banyak teman penyandang disabilitas sebenarnya memiliki kemampuan untuk membuat makanan maupun kerajinan. Namun tidak semuanya memiliki kemampuan yang sama dalam memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran.

"Teman-teman juga banyak yang memiliki keterbatasan dalam dunia digital marketing," katanya.

Karena itu, ia memilih mengambil peran di bagian pemasaran. Produk dibuat oleh teman-temannya, sementara ia membantu memperluas jangkauan pasar melalui kanal online.

Saat ini dia bahkan tengah merintis agar produk-produk tersebut bisa dipasarkan melalui kegiatan seperti Sunday Morning (sunmor) di UGM maupun lokasi lainnya.

Bagi Widiyaskoro, bekerja bukan hanya persoalan mendapatkan penghasilan. Aktivitas tersebut juga menjadi cara untuk membuka kesempatan bagi dirinya dan teman-teman disabilitas lainnya agar tetap produktif.

Pendapatannya memang belum besar dan belum selalu tetap. Namun, menurutnya, hasil yang diperoleh sejauh ini cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Lumayanlah untuk bisa makan sehari-hari," ujarnya.

Semangat mencoba hal baru juga terlihat dari Muryati, 49 tahun. Selama ini, perempuan tersebut bekerja sebagai penjahit dari rumah.
Namun, pekerjaan menjahit yang selama ini menjadi andalannya mulai sepi. Perubahan kebiasaan masyarakat yang semakin banyak berbelanja secara online turut berdampak pada pekerjaannya.

Muryati kemudian bertahan dengan menerima jasa permak pakaian. Mulai mengganti ritsleting, memotong, mengecilkan, hingga membesarkan pakaian. 

"Kalau ganti rel atau ritsleting sekitar Rp15 ribu sampai Rp20 ribu," tuturnya.

Namun penghasilannya tidak menentu.  Itu pun tidak setiap hari ada pelanggan.

"Enggak mesti. Sekarang memang semuanya bisa sulit," ujarnya.

Karena kondisi fisiknya, Muryati juga harus memilih pekerjaan yang dapat dilakukan dengan tenaga yang tidak terlalu besar dan sebisa mungkin tidak mengharuskannya sering keluar rumah.

"Mesti memilih. Harus yang enggak banyak tenaga, terus enggak banyak keluar rumah juga," katanya.

Kesempatan baru datang ketika ia mengikuti pelatihan membatik. Untuk pertama kalinya, Muryati memegang canting dan mencoba membuat motif di atas kain. Ia mengakui hasil pertamanya masih jauh dari sempurna.

"Masih celoleng-celoleng," ujarnya sambil menggambarkan dirinya yang masih kaku menggunakan canting.

Namun, ketidaksempurnaan itu tidak membuatnya berhenti. Ia membawa pulang alat membatik yang diperolehnya dalam pelatihan. Di rumah, alat tersebut akan digunakannya untuk terus berlatih.

Bagi Muryati, membatik bukan sekadar aktivitas baru. Ada harapan keterampilan tersebut kelak menjadi peluang usaha tambahan ketika pekerjaan menjahit sedang sepi.

"Insyaallah, tadi sudah dapat alat, jadi nanti di rumah bisa buat belajar lagi," ujarnya.

Kepala Dinas Sosial DIY, Suyarno mengatakan Pemda DIY mendorong terbentuknya akses pemberdayaan sekaligus ekosistem usaha bagi penyandang disabilitas di DIY. Diantaranya melalui pelatihan membantik bagi kaum difabel.

Hasil karya peserta rencananya akan dipamerkan dalam rangka peringatan Hari Disabilitas Nasional di Bandara YIA pada Desember 2026 mendatang. Karya tersebut juga terbuka kemungkinan untuk dipasarkan kepada masyarakat luas.

"Harapannya menjadi sentra batik difabel juga di DIY," ujarnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak