RANS Carnival Kena Cancel Culture, Pakar Komunikasi Sebut Ini Bukan Sekadar Retorika

Seruan boikot dan cancel culture membuat musisi serta UMKM mundur dari RANS Carnival Jogja. Keputusan ini didukung publik lewat solidaritas pembelian produk lokal.

Budi Arista Romadhoni
Senin, 02 November 2026 | 14:55 WIB
RANS Carnival Kena Cancel Culture, Pakar Komunikasi Sebut Ini Bukan Sekadar Retorika
Kondisi RANS Carnival di Stadion Maguwoharjo, Sabtu (31/10/2026). (Istimewa)
Baca 10 detik
  • Sejumlah musisi dan pelaku UMKM membatalkan keikutsertaan mereka dalam acara RANS Carnival di Stadion Maguwoharjo pada 31 Oktober-1 November 2026.
  • Pelaku UMKM Jeruk Lokal Maguwoharjo mendapatkan keuntungan setelah warganet memborong lima ratus cangkir minuman dagangan mereka akibat keputusan mundur tersebut.
  • Pengamat media Fajar Junaedi menyatakan fenomena penolakan tersebut menunjukkan bahwa opini publik dan tekanan media sosial dapat memengaruhi keputusan bisnis.

SuaraJogja.id - Seruan boikot terhadap RANS Carnival yang digelar di kawasan Stadion Maguwoharjo 31 Oktober-1 November 2026 kemarin tak bisa dianggap main-main. Mundurnya sejumlah musisi yang memilih mundur serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang semula berencana membuka lapak dalam acara tersebut disebut bukan sekedar boikot.

Salah satunya Jeruk Lokal Maguwoharjo. Pihak pengelola saat dikonfirmasi melalui Direct Message (DM) media sosial (medsos) mengaku memilih tidak melanjutkan keterlibatan sebagai tenant RANS Carnival. Keputusan itu diambil atas pertimbangan situasi dan kondisi masyarakat, bukan karena adanya sanksi dari penyelenggara

Admin Jeruk Lokak Maguwoharjo menyebut pihak penyelenggara bahkan bersedia mengembalikan biaya sewa tenant yang telah dibayarkan.

"Tidak ada punishment atau penalty. Mereka mau kembalikan biaya sewa tenant kami. Murni keputusan kami karena melihat situasi dan kondisi masyarakat, hanya ini yang bisa kami lakukan," ungkapnya.

Baca Juga:Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya

Alih-alih merugi, keputusan mereka untuk mundur berbuah manis. Dagangan mereka diborong warganet untuk dibagikan ke ojek online dan lainnya. Sebanyak 500 cup minuman jeruk terjual habis.

"Total ada 500 cup lebih," jelasnya.

Sementara itu Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pengamat media, Fajar Junaedi menilai fenomena tersebut dapat dibaca melalui konsep cancel culture atau budaya pembatalan.
Keputusan tersebut memperlihatkan polemik RANS Carnival telah meluas. 

"Penolakan tidak lagi sebatas komentar dan kritik di media sosial, tetapi mulai memengaruhi keputusan bisnis pelaku usaha lokal," ujar Fajar di Yogyakarta, Senin (2/11/2026).

Fajar menjelaskan tekanan opini publik dapat memengaruhi keputusan individu maupun kelompok dalam menentukan keterlibatan mereka pada suatu kegiatan. Merujuk penelitian Pippa Norris berjudul "Cancel Culture: Myth or Reality? yang terbit dalam jurnal Political Studies edisi 2023", fenomena tersebut disebutnya juga berkaitan dengan teori spiral of silence atau spiral keheningan yang diperkenalkan Elisabeth Noelle-Neumann. 

Baca Juga:Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap

Teori ini menjelaskan kecenderungan seseorang menahan pendapat ketika merasa pandangannya berbeda dari opini yang dianggap dominan. Ketika seseorang merasa pendapatnya berbeda dari suara mayoritas, muncul kecenderungan untuk diam karena khawatir menghadapi tekanan sosial. 

"Akibatnya, suara mayoritas semakin terlihat dominan, sementara kelompok yang berbeda semakin sulit menyampaikan pandangannya," jelasnya.

Fajar menilai kuatnya opini di medsos dapat memengaruhi keputusan pihak-pihak yang memiliki hubungan dengan komunitas tertentu. Dalam konteks Yogyakarta, dinamika penolakan RANS Carnival tidak bisa dilepaskan dari situasi sosial setelah rangkaian demonstrasi mahasiswa.

Isu kekuasaan, solidaritas, dan aspirasi masyarakat menjadi bagian dari konteks yang memengaruhi penilaian terhadap figur publik. Karenanya ketika seorang figur atau kelompok dipersepsikan tidak sejalan dengan nilai yang sedang menguat di suatu komunitas, mereka berpotensi ditempatkan sebagai pihak yang dianggap berbeda dari norma sosial setempat.

"Namun keputusan setiap musisi maupun pelaku usaha untuk mundur harus dibaca berdasarkan alasan masing-masing. Tidak semua keputusan tersebut otomatis disebabkan tekanan atau ancaman di media sosial," tandasnya.

Di sisi lain, munculnya solidaritas masyarakat terhadap UMKM yang terdampak disebut memperlihatkan bentuk kepedulian. Masyarakat menyampaikan ketidaksetujuan terhadap figur atau kegiatan tertentu tetap menunjukkan kepedulian kepada pelaku usaha lokal yang berpotensi menanggung kerugian ekonomi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak