- Ketua PP Muhammadiyah Syamsul Anwar menyatakan tren agnostik di kalangan anak muda meningkat berdasarkan data Pew Research Center 2023.
- Muhammadiyah menyiapkan penguatan akidah dan menyusun Risalah Akidah Islam dalam Munas Tarjih di Surabaya pada 5-7 November 2026.
- Muhammadiyah meluncurkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan bernama ChatHPT untuk memudahkan akses informasi keagamaan resmi bagi masyarakat.
SuaraJogja.id - Fenomena anak muda yang mulai meragukan keberadaan Tuhan, bahkan bersikap tidak peduli terhadap eksistensi-Nya atau agnostik menjadi tantangan baru bagi kehidupan beragama. Bahkan berdasarkan data Pew Research Center tahun 2023, sebanyak 36 persen masyarakat Indonesia menyatakan diri sebagai agnostik, atau tidak lagi mengakui afiliasi terhadap agama tertentu.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syamsul Anwar mengungkapkan, fenomena meningkatnya sikap agnostik di kalangan anak muda harus menjadi perhatian. Sebab kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia namun juga banyak negara lain.
"Contohnya di Amerika Serikat, ketika sebagian anak muda di lingkungan perguruan tinggi mulai tidak percaya atau tidak lagi peduli terhadap keberadaan Tuhan," papar Syamsul dalam persiapan Munas Tarjih ke-XXXIII di kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (2/11/2026).
Menurutnya, makin tingginya fenomena agnostik di kalangan generasi muda salah satunya karena pengaruh buku The God Delusion karya penulis asal Inggris yang dikenal dengan pandangan Atheismenya. Buku tersebut dinilai turut memengaruhi cara sebagian anak muda memandang agama dan keberadaan Tuhan.
Baca Juga:Miris 117 Kampus Muhammadiyah Tanpa Profesor, Forum PTMA Siapkan Penataan Besar
Namun Syamsul menyebut, perkembangan spiritual manusia tidak selalu bergerak secara linear. Ada masa ketika masyarakat kembali merindukan agama, tetapi pada periode lain justru menjauh dari kehidupan beragama.
"Perkembangan spiritual itu bersifat zig-zag. Pada suatu saat orang rindu kepada agama, pada saat lain orang bisa menjauh dari agama. Perkembangannya berbelok-belok sejak zaman dahulu," ungkapnya.
Ia mencontohkan, pada Abad Pertengahan masyarakat Eropa memiliki kepercayaan yang kuat terhadap Tuhan. Namun, memasuki zaman Renaisans, pemikiran sekuler semakin berkembang dan kepercayaan terhadap agama mengalami tantangan.
Di sisi lain, muncul pula tren kebangkitan agama yang pernah diprediksi menjadi salah satu karakteristik abad ke-21. Namun, fenomena agnostisisme yang kembali mengemuka menunjukkan dinamika hubungan manusia dengan agama masih terus berubah.
Menurut Syamsul, Muhammadiyah tidak boleh berpangku tangan menghadapi perkembangan tersebut. Penguatan akidah menjadi penting, bukan hanya untuk menjaga keyakinan umat Islam, tetapi juga berkaitan dengan fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Baca Juga:Cak Nun hingga Eross Sheila on 7, Jejak 77 Tahun MUHI Yogyakarta Diabadikan dalam Buku
"Kepercayaan kepada Tuhan itu penting. Apalagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, membangun akidah juga berarti mempertahankan sila pertama ini," tegasnya.
Salah satu langkah yang ditempuh Muhammadiyah adalah memperkuat dakwah melalui Majelis Tabligh dan mengembangkan kajian keagamaan. Dakwah tidak hanya dilakukan secara konvensional, tetapi juga melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Langkah lebih konkret akan dibahas dalam Munas)\ XXXIII Tarjih Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Jawa Timur, 5-7 November 2026.
"Muhammadiyah menyiapkan penguatan akidah yang tidak sekadar berisi doktrin dan norma, tetapi harus mampu menjawab persoalan nyata kehidupan generasi muda," paparnya.
Sementara itu Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustadi Hamsah mengatakan, salah satu agenda penting dalam Munas tersebut adalah penyusunan Risalah Akidah Islam Muhammadiyah.
Menurut dia, Muhammadiyah ingin menghadirkan pemahaman akidah yang tidak berhenti pada norma-norma keagamaan, hafalan, maupun konsep teoretis. Akidah harus memiliki daya jawab terhadap persoalan yang dihadapi umat dan masyarakat.