Setelah berhasil melakukan aksi klitih tersebut, maka junior sudah dianggap menjadi bagian dari kelompok tersebut. Pola rekrutmen ini dilakukan oleh kelompok, bukan geng sekolah seperti anggapan yang beredar selama ini. Mereka justru berasal dari kelompok-kelompok kecil yang sering nongkrong di suatu tempat.
Klitih berkelompok
Sementara, pelaku klitih yang beramai-ramai biasanya berasal dari geng sekolah meskipun tidak semuanya. Mereka melakukan penganiayaan lebih dengan spontan tanpa ada rencana terlebih dahulu dan untuk menunjukkan loyalitas terhadap geng mereka. Pemicunya pun juga merupakan hal-hal yang sepele, seperti ketemu saling pandang mata di jalan ataupun didahului ketika berkendara.
"Kalau kelompok yang ramai-ramai ini biasanya berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas," papar Teguh.
Biasanya, lanjut dia, kelompok ini adalah dari golongan orang mampu dan sudah pasti mendapat fasilitas lebih dari orang tua, dan yang menjadi pemicu aksi mereka adalah harmonisasi keluarga masih kurang. Anak-anak ini mendapatkan berbagai fasilitas, tetapi tidak menerima kasih sayang.
"Kalau kelompok ini tidak dalam pengaruh miras atau narkoba. Dari sekian banyak pelaku, mungkin hanya satu yang mengkonsumsi miras," ujar Teguh.
Sebenarnya, menurut Teguh, kecenderungan pada kelompok ini bukan untuk melakukan klitih, tetapi aksi tawuran, seperti yang terjadi di Jalan Parangtritis beberapa waktu yang lalu, di mana ada seorang remaja yang meninggal karena dikeroyok sekelompok remaja lain usai bermain futsal.
Hal tersebut terjadi karena pertandingan futsal yang telah disertau perjanjian bahwa yang kalah bersedia membayar sewa lapangan. Namun, ternyata janji tidak ditepati, sehingga timbulah ketegangan di antara keduanya.
"Jadi menurut saya itu bukan klitih, tetapi tawuran. Karena marak klitih, maka ya disebut klitih oleh banyak orang," ujar Teguh.
Baca Juga: Deddy Corbuzier Luncurkan Buku Buat Generasi Millennial
Soal senjata yang mereka bawa, ia mengakui memang dipersiapkan sebelumnya. Alasannya untuk membela diri. Mereka beranggapan, daripada menjadi korban, maka lebih baik mempersenjatai diri.
Aksi klitih beramai-ramai tersebut juga bukan hasil pola rekrutmen anggota baru, melainkan lebih karena psikologis massa dan juga rasa ingin diakui di kelompoknya. Biasanya, karena jumlah mereka banyak, maka mental mereka tergugah, sehingga berani melakukan penganiayaan.
"Usai membacok ya sudah, ketakutan sendiri. Menyesal itu sudah pasti, bahkan biasanya tidak ada yang akrab sama orang tua, tiba-tiba baik sama orang tua. Pulang membacok, sampai rumah langsung memijit orang tuanya, padahal sebelumnya tidak pernah sama sekali. Orang tuanya kaget, karena tiba-tiba paginya diciduk polisi," ungkap Teguh.
Tak ada motif tertentu dalam aksi pembacokan tersebut kecuali hanya ingin diakui oleh kelompoknya. Bahkan pelaku klitih berkelompok tak memahami yang mereka lakukan karena sifatnya spontan.
Menurut Teguh, anak-anak ini biasanya dimanja oleh orang tuanya, sehingga kurang perhatian ketika di luar rumah. Mereka sering membolos sekolah meskipun sejatinya setiap hari pamit untuk berangkat sekolah.
"Untuk itu, antara pihak sekolah dan orang tua agar lebih komunikatif lagi. Kalau tidak sampai ke sekolah, sebaiknya pihak sekolah menanyakan ke pihak orang tua. Demikian juga kalau anak pulang telat, maka orang tua wajib menanyakan ke sekolah," imbau Teguh.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
Dana Desa 2026 Terancam Dipangkas, Pengembangan Koperasi Merah Putih di Bantul Terkatung-katung
-
Gengsi Maksimal, Dompet Santai! 4 Mobil Bekas Harga Rp60 Jutaan yang Bikin Melongo
-
Tak Kenal Pelapor, Muhammadiyah Minta Pandji Lebih Cermat dan Cek-Ricek Materi Stand Up
-
Trump Makin Dar-Der-Dor, Pakar Sebut Tatanan Dunia Terguncang, Picu Aksi Teroris
-
Kekecewaan Keluarga Diplomat Arya Daru usai Polisi Setop Penyelidikan, Ada Sederet Kejanggalan