Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo | Mutiara Rizka Maulina
Senin, 31 Agustus 2020 | 13:47 WIB
Komisioner Komnas Perempuan dan Guru Besar Kajian Gender UIN Sunan Kalijaga, Alimatul Qibtiyah. [Mutiara Rizka M / SuaraJogja.id]

Bagi dosen yang hobi mengenakan kalung sebagai hiasan di atas kerudungnya ini semua pencapaian yang ia dapatkan di waktu yang tepat. Semuanya sesuai dengan usaha yang ia kerahkan selama ini. Seperti ketika diliputi kesibukan menjalani pendidikan di luar negeri, Alim tetap memperhatikan jenjang kenaikan jabatan di universitas tempatnya mengajar. Sehingga ia tidak hanya menjalani kemajuan secara teoritis dari segi keilmuan namun juga kemajuan di bidang aktivitasnya sebagai komisioner Komnas Perempuan.

"Jadi saya selalu punya buku-buku kecil berisi harapan saya. Seperti tahun ini bismillah membawa manfaat mengabdi di komnas," tutur Alim.

Salah satu rahasia kecil ibu tiga anak ini berhasil meraih berbagai posisi dalam hidupnya adalah buku kecil yang ia miliki selama lima tahun terakhir. Buku diary itu berfungsi sebagai media untuk menuliskan target-target tahunannya. Sejauh ini, ia menilai keberadaan buku tersebut bekerja dengan baik, hal-hal yang ia harapkan dapat terwujud sesuai bentang waktu yang diharapkan.

Bersamaan dengan diterimanya Alim sebagai komisioner komnas perempuan, persyaratannya untuk menyandang gelar profesor di bidang kajian gender juga diterima. Dua bulan kedepan, ia akan segera dikukuhkan sebagai guru besar di bidang kajian gender. 

Baca Juga: Protes UIN Sunan Kalijaga Trending, Akun Twitter Jookoowi Turut Prihatin

Bercadar hingga jilbab modis

Perkenalan Alim dengan dunia gender berawal dari aktifitasnya di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PPI) saat menempuh pendidikan strata satunya. 

Dalam perjalanannya, menjadi Alimatul Qibtiyah yang saat ini dikenal sebagai aktivis perempuan pernah bergabung dengan kelompok islam yang menyampaikan bahwa perempuan harus mau dipoligami. Selama menjalani pendidikan starta satunya, Alim rutin mengikuti beragam pengajian setiap harinya. Ia belajar dari banyak orang yang kemudian membentuk siapa dirinya saat ini.

Saat kuliah di IAIN, Alim pernah menjadi seorang muslimah yang mengenakan gamis dan cadar. Dari berbagai pengalaman hidup dan pencarian dirinya, ia berubah menjadi sosok yang sangat modis dalam berpakaian. Jika sebelumnya, ia merasa akan masuk neraka jika satu helai rambutnya terlihat, kini Alim merasa cukup nyaman menyapu halaman rumahnya tanpa mengenakan kerudung meskipun banyak tetangga laki-laki yang berlalu lalang.

Komisioner Komnas Perempuan dan Guru Besar Kajian Gender UIN Sunan Kalijaga, Alimatul Qibtiyah. [Mutiara Rizka M / SuaraJogja.id]

"Iya sekarang nyapu depan rumah tetangga lewat anak kos lewat biasa saja, dan saya tidak merasa itu berdosa. Selama saya masih punya otonomi terhadap tubuh saya dan saya paham asbabul nuzul dan historical storynya," terang Alim.

Baca Juga: Isu Kenaikan UKT Merebak, UIN Sunan Kalijaga Pertimbangkan Hal Ini

Bagi Alim, jilbab adalah sebuah simbol kebebasan tubuh mana yang ingin ia tutup. Dimana rasa kebebasan itu terpengaruh dari nilai-nilai yang ia anut dan beragam teori yang ia pelajari dan dengan siapa ia bergaul. Dulu, jilbab adalah pakaian agama baginya, namun saat ini jilbab lebih kepada pakaian budaya dan identitas yang membuatnya merasa berdosa secara sosial jika tidak mengenakannya.

Load More