Eleonora PEW
Anggota Sanggar Lumbung Kawruh Pedukuhan Ngurak Urak mengeksplorasi Luweng (gua vertikal) yang berada di wilayah mereka demi mencari air. - (Kontributor SuaraJogja.id/Julianto)

SuaraJogja.id - Sebagian wilayah Gunungkidul hingga saat ini masih menghadapi masalah air bersih. Di musim kemarau seperti sekarang ini memang menjadi puncak persoalan yang menghinggapi sebagian wilayah Gunungkidul, mereka kesulitan mendapatkan air bersih hingga terpaksa mengandalkan droping dari pemerintah ataupun membeli air.

Seperti Padukuhan Ngurak Urak, Kalurahan Petir, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul. Padukuhan ini terletak di wilayah selatan Gunungkidul dan sudah hampir setiap musim kemarau seperti sekarang ini, persoalan air di daerah ini memang menjadi suatu masalah yang sangat mendasar.

Saluran PDAM sebenarnya sudah sampai ke wilayah mereka, tetapi karena berada di ujung selatan, maka pasokan air tidak selalu mengalir dengan baik. Bukan setiap hari, melainkan seminggu sekali air dari PDAM bisa mereka nikmati. Debitnyapun hanya alakadarnya semata, tak mampu memenuhi kebutuhan mereka.

Sebenarnya, hampir setiap rumah memiliki bak Penampung Air Hujan (PAH). Bak yang berbentuk tabung dan berbahan semen ini dibangun dengan dana swadaya. Fungsinya adalah untuk memanen air hujan (Rain Harvesting).

Baca Juga: Kisah Ngeri Pembantaian PKI di Gua Grubug, Dipaksa Terjun ke Lubang Sedalam 98 Meter

Semakin meningkat kesejahteraan seseorang tentu ukuran Bak PAH ini juga semakin besar. Bagaimana tidak, untuk membangun Bak PAH ini memang membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Bak PAH ini, airnya akan habis digunakan jika mulai memasuki musim kemarau, dan jika air habis maka suplai air untuk mengisi PAH, yang semula mengandalkan air hujan, digantikan oleh PDAM.

Salah seorang warga Padukuhan Ngurak Urak, Harmanto (39) mengatakan, karena air PDAM tidak mengalir setiap hari, maka warga berinisiatif menjadwal siapa yang berhak mendapatkan aliran air PDAM setiap minggunya. Warga pun memakluminya, sehingga bersedia untuk digilir.

"Air PDAM di sini hanya seminggu sekali. Kami terpaksa bergiliran untuk mengisi bak bak penampung milik warga," terangnya, Sabtu (18/9/2021).

Hanya saja bagi warga yang tinggal di tempat yang agak tinggi maka mereka tidak akan mendapatkan air sebanyak yang mereka harapkan. Karena seringkali saat tiba giliran mengisi penampung, mereka justru tidak kebagian. Rumah-rumah yang terletak di bagian bawah otomatis lebih dulu untuk mengisi bak tampungnya karena air yang mengalir hanya sehari ini, tidak mencukupi bagi sebagian warga.

Baca Juga: Viral Kakek Hidup Sebatang Kara di Tepus, Inem Jogja Beri Penjelasan Alasan Mengunggahnya

Untuk warga yang tidak kebagian air, akhirnya mereka terpaksa membeli air dari tangki yang berasal dari Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Satu tangki air seharga sampai Rp220 ribu. Jumlah tersebut tentu cukup memberatkan, terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini.

Berangkat dari keprihatinan tentang hal ini, Ribut (35), Harmanto, dan beberapa pemuda yang tergabung dalam wadah Sanggar Lumbung Kawruh Pedukuhan Ngurak Urak akhirnya beberapa hari yang lalu berusaha mencari alternatif dengan mencoba mengeksplorasi Luweng (gua vertikal) yang berada di wilayah mereka.

"Kami masuk ke dalam Luweng dengan tujuan untuk mencari sumber air," paparnya.

Kelompok ini berkolaborasi dengan Keluarga Pecinta Alam Fakultas Sastra (Kapalasastra), Fakultas Ilmu Budaya(FIB), Universitas Gajah Mada(UGM) Yogyakarta, yang mempunyai hobi susur gua(Caving). Mereka difasilitasi oleh Sosen Universitas Brawijaya Malang, Irsyad Mathias(40).

"Sayang kami belum bisa menemukan keberadaan air di dua Luweng/gua yang dimasuki. Pada umumnya eksplor awal gua hanya mengidentifikasi keadaan mulut gua, teknis Rigging (lintasan masuk), dan keadaan ekologis gua, Biota, ornamen gua, lorong gua, dan potensi sumber air," terang Irsyad.

Alumnus Kapalasastra FIB UGM ini mengatakan berdasarkan eksplorasi kemarin, mereka mendata bahwa gua Gunung Kendil mempunyai kedalaman vertikal sekitar 25 meter dan chamber/ruang gua sekitar 4 meter. Selain itu pihaknya juga tidak menemukan indikasi lorong lanjutan yang dapat ditelusuri.

Sedangkan gua/luweng Gunung Panggang, menurut Irsyad mempunyai kedalaman vertikal sekitar 8-10 meter, Chamber gua memanjang sekitar 15-20 meter, dan jalurnya tertutup batu. Dalam gua tersebut erdapat Boulder/dinding batu yang mungkin reruntuhan dari permukaan yang menutupi lorong gua.

"Di kedua gua/Luweng ini, sampai akhir eksplorasi, kami tidak menemukan potensi sumber air," kata Jefri(21) menambahi.

Jefri adalah Mahasiswa UGM asal Sulawesi, dia adalah satu dari 9 anak Kapalasastra yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Dalam penelusuran gua/luweng ini, dia dan teman temannya,menggunakan teknik penelusuran Single Rope Tehcnique(SRT).

Kendati tidak menemukan sumber air, menurut Jefri, data tentang gua yang berhasil dikumpulkan bisa menjadi rekomendasi bagi masyarakat tentang pemetaan gua sebagai bahan kajian lebih lanjut.

"Masyarakat juga perlu mengetahui keberadaan gua/luweng di daerah mereka, sehingga keberadaanya dapat dilindungi. Masyarakat juga perlu mengetahui keberadaan gua/luweng di daerah mereka, sehingga keberadaanya dapat dilindungi," pungkas Jefri.

Disela sela memberesi peralatan Caving, kami kemudian banyak berbincang dengan anggota Sanggar Lumbung Kawruh, tentang kelanjutan upaya untuk mengatasi maslah air di Padukuhan Ngurak Urak,.ataupun Kalurahan Petir pada umumnya.

Ribut(35), pendiri sekaligus pengelola Sanggar Lumbung Kawruh ini kemudian banyak bercerita tentang keadaan alam di desanya. Pemuda berambut gimbal ini mengatakan sebetulnya masih ada dua gua/luweng yang belum dieksplorasi, yaitu luweng Jaran dan Song Terus, nanti kita akan agendakan lagi.

"Ada empat telaga di desa kami, semuanya kering, telaga telaga ini kering karena pohon besar/resan yang roboh dan mati dan karena dibangun talud permanen," lanjut Ribut.

Menurutnya, sebelum mengering fungsi telaga telaga ini sebetulnya sangat membantu masyarakat, baik untuk keperluan mandi, mencuci serta memandikan dan memberi minum ternak ternak petani.

"Sekarang ini, air telaga paling bertahan hanya satu bulan di musim kemarau, setelah itu kering kerontang," imbuhnya.

Kontributor : Julianto

Komentar