Scroll untuk membaca artikel
Eleonora PEW | Muhammad Ilham Baktora
Rabu, 20 April 2022 | 09:15 WIB
Beberapa pedagang menunjukkan poster penundaan relokasi PKL Malioboro di kantor DPRD Kota Yogyakarta, Senin (17/1/2022). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Gayung tak bersambut, upaya Yati dan pedagang lain tak digubris. Sebelumnya pedagang meminta relokasi ditunda sampai Idulfitri 2022 saja. Namun, Pemda DIY menolak.

Bahkan ketika awal Februari, yaitu saat masa berjualan pedagang di Malioboro sudah habis, sempat terjadi gesekan antara petugas gabungan dan pedagang Malioboro, menyusul surat edaran yang baru diberikan secara mendadak kepada pedagang.

"Kalau memang Februari tidak bisa jualan, ya jauh-jauh hari, mungkin awal Januari itu sudah ada suratnya, diberikan ke setiap pedagang. Lha ini akhir Januari baru diberikan, bahkan baru tengah malam itu dikirim ke kami, apa tidak buru-buru? Sebenarnya pemerintah ini kenapa sampai memaksa seperti ini?" keluh dia.

Suasana jalur pedestrian Malioboro pascarelokasi PKL ke Teras Malioboro. - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Tidak hanya Yati, pedagang perempuan lain seperti Upi juga mempertanyakan kesiapan Pemkot Yogyakarta terhadap lapak di Teras Malioboro 2. Pedagang hanya diberi lapak dengan seng-seng besi. Saat hujan deras, kerap kali atap bocor bahkan sampai banjir.

Baca Juga: Viral Keluhan Wisatawan Ditarik Tarif Jasa Becak sampai Rp80 Ribu di Malioboro, Begini Penjelasan Dishub Kota Yogyakarta

Upi tak tinggal diam ketika isu relokasi itu menyebar di lingkungan pedagang. Beberapa orang gelisah karena kepastian ukuran lapak, bahkan waktu perpindahannya tak langsung disampaikan ke pedagang.

"Seakan-akan tidak transparan pemerintah itu. Kami rakyat kecil bersuara keras juga tidak didengar," kata dia.

Upi bersama rekan lainnya juga meminta bantuan LBH Yogyakarta terkait relokasi yang diklaim disepakati hanya satu pihak saja. LBH Yogyakarta menampung aspirasi dan membuka rumah aduan agar kejelasan relokasi ini transparan.

Baik Upi dan Yati berusaha untuk tetap bertahan dengan cara berjualan. Aspirasi dari suara mereka mewakili keresahan pedagang lain soal bagaimana menghidupi keluarga mereka jika relokasi tak sama dengan keadaan sebelumnya.

Nasi telah menjadi bubur, relokasi PKL mau tidak mau diterima dengan emosi yang harus mengendur.

Baca Juga: Dua Pekan Berjualan di Teras Malioboro 1 Selama Ramadhan, Yanti Baru Kantongi Rp180 Ribu

Malioboro transformasi, eks PKL tak punya pilihan selain adaptasi

Load More