- Pengembangan varietas padi lokal menjadi opsi strategis menghadapi perubahan iklim ekstrem karena telah teruji adaptasinya secara alami di lingkungan spesifik daerah tersebut.
- Optimalisasi varietas unggul perlu disesuaikan kondisi daerah Indonesia yang beragam untuk mencegah penurunan produksi sekaligus memerlukan komunikasi hasil riset hingga ke tingkat petani.
- Produktivitas padi Indonesia masih stagnan lima ton per hektare per tahun, diperparah rendahnya kesejahteraan petani dan perlunya riset bibit unggulan demi ketahanan pangan.
SuaraJogja.id - Perubahan iklim yang makin ekstrem mendorong perlunya pengembangan varietas padi yang mampu bertahan di berbagai kondisi cuaca. Optimalisasi varietas lokal dinilai menjadi opsi paling menjanjikan sebab telah teruji beradaptasi dengan lingkungan masing-masing daerah selama ratusan tahun.
Guru Besar Biokimia Molekuler Fakultas Biologi UGM, Yekti Asih Purwestri, menegaskan bahwa pengembangan varietas padi lokal menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim.
"Varietas lokal kita itu sebenarnya kan memang sudah teruji secara alami, cocok di lingkungan daerah tersebut selama beratus-ratus tahun," kata Yekti, dalam acara Knowledge & Innovation Exchange, Innovating for Climate Action and Sustainable Development, Kamis (19/11/2025).
Dipaparkan Yekti bahwa setiap wilayah di Indonesia memiliki kondisi tanah, iklim, dan demografi yang berbeda. Sehingga varietas yang ditanam pun perlu disesuaikan dengan karakteristik setempat.
Penyesuaian dan optimalisasi varietas lokal ini diharapkan dapat mencegah penurunan produksi akibat cuaca ekstrem. Saat ini pihaknya tengah melakukan riset lebih lanjut mengenai hal tersebut.
"Kita tidak hanya memberikan satu varietas tertentu, tapi tiap daerah punya kondisi berbeda. Kita ingin mengembangkan varietas unggul yang sesuai masing-masing daerah," ucapnya.
Yekti menambahkan, riset di laboratorium harus disertai komunikasi yang baik hingga hasilnya bisa diterapkan di lapangan. Menurutnya, kerja sama dengan kementerian dan dinas pertanian penting agar varietas unggul dapat sampai ke petani sebagai informasi yang benar dan bermanfaat.
"Riset itu tidak hanya di laboratorium, tetapi juga harus dikomunikasikan dan disebarkan agar benar-benar sampai ke petani," ujarnya.
Isu produktivitas pun tetap menjadi perhatian serius pemerintah. Staf Khusus Menko Pangan Bidang Kebijakan Strategis, Meizani Irmadhiany, menjelaskan bahwa produktivitas padi Indonesia masih stagnan di angka rata-rata 5 ton per hektare.
Baca Juga: Riset Harus Turun ke Masyarakat: Kolaborasi Indonesia-Australia Genjot Inovasi Hadapi Krisis Iklim
Apalagi kemudian sebagian besar sawah di Indonesia hanya panen sekali dalam setahun.
"Dari 10 juta hektare sawah yang ada di Indonesia, rata-ratanya itu produksinya itu hanya 5 ton per hektare. Berarti sebagian besar dari sawah kita itu hanya memproduksi atau panen sekali dalam setahun," kata Meizani.
"Sedangkan produksi beras dengan varietas yang ada sebenarnya harusnya bisa dua sampai tiga kali dalam setahun," imbuhnya.
Ia menegaskan, riset varietas dan bibit unggulan sangat penting mengingat ancaman mono-varietas yang rentan terhadap perubahan iklim.
Persoalan tak hanya sampai di situ, kata Meizani, kesejahteraan petani yang rata-rata berpenghasilan bersih kurang dari Rp1 juta per bulan turut menjadi faktor yang menghambat ketahanan pangan.
"Kalau petani tidak sejahtera, tidak mungkin terjadi swasembada pangan," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
Dana Desa 2026 Terancam Dipangkas, Pengembangan Koperasi Merah Putih di Bantul Terkatung-katung
-
Gengsi Maksimal, Dompet Santai! 4 Mobil Bekas Harga Rp60 Jutaan yang Bikin Melongo
-
Tak Kenal Pelapor, Muhammadiyah Minta Pandji Lebih Cermat dan Cek-Ricek Materi Stand Up
-
Trump Makin Dar-Der-Dor, Pakar Sebut Tatanan Dunia Terguncang, Picu Aksi Teroris
-
Kekecewaan Keluarga Diplomat Arya Daru usai Polisi Setop Penyelidikan, Ada Sederet Kejanggalan