- Perajin di Desa Ngawen, Sleman, secara tradisional mengubah rongsokan kuningan menjadi klinting bernilai tinggi melalui proses pengecoran manual.
- Kualitas klinting Ngawen terjamin karena menggunakan kuningan murni dengan campuran minimal, menghasilkan suara nyaring dan ketahanan lama.
- Jumlah perajin menyusut drastis, namun pemerintah berupaya mendukung promosi agar tradisi pembuatan klinting ini dapat bertahan.
SuaraJogja.id - Bagi sebagian warga di desa Ngawen, Sidokarto, Godean, Sleman, kuningan merupakan benda istimewa. Melalui tangan-tangan cekatan yang sudah turun-temurun, kuningan dari rongsok diubah menjadi produk yang bernilai.
Kini suara logam halus dari klinting pun sudah lama menjadi bagian identitas. Klinting dari kuningan yang dihasilkan di sini tidak sekadar barang kerajinan.
Melainkan bagian dari ragam seni tradisional dan kepercayaan pelaku seni, mulai dari jeritan gamelan hingga denting tari topeng.
Salah satu perajin kuningan yang juga membuat klinting, Ika Andrianti (43), klinting di Ngawen tetap diolah secara manual, dengan keseriusan menjaga keaslian bahan.
Ia menjelaskan bahwa dari bahan kuningan murni, dan melalui proses pengecoran tradisional, klinting dapat menghasilkan suara nyaring dan tahan lama. Karakteristik itu yang dicari para pemesan dari kini mayoritas memang dari kalangan seniman.
"Kalau murni kuningan awet, kalau banyak campuran mudah patah," kata Ika, Minggu (30/11/2025).
Ia menegaskan bahwa kualitas dan keuletan tangan menjadi pembeda utama antara klinting Ngawen dengan produk massal.
Bahkan, saat bubut dan pembersihan akhir dilakukan dengan seksama, klinting ini dibuat dengan proporsi campuran kuningan hanya kecil.
"Misal 100 kg kuningan, nanti campurannya cuma 3 sampai 5 kg," ungkapnya.
Baca Juga: Gagal Pindah! Lahan Sekolah Pengganti SD Nglarang Ternyata Lahan Sawah Dilindungi
Hasilnya tak perlu diragukan lagi, suara jernih, resonansi kuat, dan ketahanan lebih unggul dibanding produk campuran.
Berdasarkan keunggulan kualitas inilah, tak sedikit pelaku seni, mulai dari tari hingga kelompok musik tradisional memilih klinting Ngawen.
Mereka datang dari berbagai daerah, kadang langsung ke Ngawen atau memesan via media sosial. Berharap mendapatkan kualitas terbaik.
Ika menyebut bahwa pengrajin mereka biasanya bekerja atas dasar pesanan. Sistem ini memungkinkan setiap klinting dibuat sesuai kebutuhan dan keinginan pemesan, menjaga kontrol kualitas agar tetap terjaga.
Proses Panjang di Balik Klinting Berkualitas
Setiap keping kuningan yang akan menjadi klinting di Ngawen melalui rangkaian proses panjang. Apalagi seluruhnya masih dibuat secara manual atau handmade.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi