- Lonjakan wisatawan akhir tahun menyebabkan kemacetan parah di Yogyakarta akibat kapasitas jalan terbatas dan sistem transportasi belum siap.
- Pakar UGM menyoroti masalah struktural transportasi Yogyakarta meliputi kurangnya sistem terintegrasi dan dominasi kendaraan pribadi.
- Solusi jangka panjang memerlukan pembenahan struktural, penguatan transportasi massal, dan pembatasan tegas kendaraan pribadi di pusat kota.
Situasi ini mendorong orang untuk memilih jalan pintas seperti ojek online, membawa mobil pribadi atau menyewa kendaraan yang pada akhirnya memperparah kepadatan jalan.
Karenanya tanpa perubahan paradigma, setiap momen libur panjang hanya akan mengulang siklus yang sama. Euforia wisata, kemacetan parah dan keluhan publik.
"Jumlah kendaraan yang bergerak kan jumlahnya akan tetap sama gitu ya kemacetan pasti akan terjadi ya karena sekali lagi demand soal lebih besar dari kapasitasnya," tandasnya.
Zudhy pun menekankan solusi tidak bisa lagi sebatas rekayasa lalu lintas temporer seperti contraflow, buka-tutup jalan, atau penambahan rambu sementara. Yang dibutuhkan adalah pembenahan struktural seperti penguatan angkutan umum massal, integrasi tarif dan rute.
Selain itu pembatasan kendaraan pribadi di pusat kota. Pengembangan kawasan parkir terpadu di pinggiran juga perlu dilakukan.
Keberanian pemerintah daerah menjadi kunci dalam mengurai masalah transportasi di DIY. Tanpa keberanian untuk mengambil kebijakan yang mungkin tidak populer seperti pembatasan kendaraan pribadi, maka transportasi di Yogyakarta akan terus berada dalam lingkaran masalah yang sama.
Apalagi dari survei yang dilakukan, meski tingkat kepuasan masyarakat tinggi terhadap layanan transportasi selama Nataru kemarin hingga mencapai 87 persen, biaya transportasi di tingkat nasional masih tergolong mahal.
Idealnya pengeluaran transportasi, khususnya untuk angkutan umum harusnya bisa ditekan di bawah 10 persen dari pendapatan laiknya di negara-negara maju.
"Kalau kita lihat untuk pulang-pergi, angkanya hampir mendekati 20 persen dari pendapatan. Akses dari simpul transportasi ke tujuan juga masih dirasa cukup mahal. Untuk angkutan umum sebenarnya masih sangat mungkin ditekan lagi," imbuhnya.
Baca Juga: Yogyakarta Darurat Parkir Liar: Wisatawan Jadi Korban, Pemda DIY Diminta Bertindak Tegas!
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
Terkini
-
Diduga Salah Sasaran, Pelajar Tewas Kena Lemparan Batu di Seyegan Sleman
-
Harga Plastik Melambung, Pameran Jogja Food & Beverage Expo 2026 Jadi Momentum UMKM Cari Alternatif
-
Tak Pandang Bulu, Bos Rokok HS Terima Karyawan Difabel Besar-besaran
-
Tingkatkan Kesehatan Masyarakat, BRI Hadirkan Pemeriksaan Gratis dan Edukasi Gaya Hidup Sehat
-
Pilih Jadi WNI, Musisi Frau dan 3 Anak Berkewarganegaraan Ganda Lainnya Ambil Sumpah di Kemenkum DIY