Budi Arista Romadhoni
Rabu, 14 Januari 2026 | 08:51 WIB
Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. [ANTARA/Anadolu/as]
Baca 10 detik
  • Kerusuhan di Iran menyebabkan jatuhnya korban jiwa termasuk wasit futsal dan mahasiswi, memicu duka mendalam di masyarakat.
  • Demonstrasi meluas mencakup 186 kota di 31 provinsi, dengan tuntutan utama beralih menjadi pengakhiran Republik Islam.
  • Pemerintah merespons keras mengakibatkan setidaknya 496 orang tewas serta sekitar 10.600 demonstran berhasil ditangkap.

5. Rumah Sakit Kewalahan dan Dugaan Korban Lebih Tinggi

Staf medis di Iran melaporkan bahwa rumah sakit kewalahan dengan banyaknya pasien yang meninggal dan terluka akibat kerusuhan.

BBC Persia bahkan memverifikasi bahwa 70 jenazah dibawa ke Rumah Sakit Poursina di Kota Rasht pada 9 Januari, dan menghitung 180 kantong jenazah dalam rekaman video di kamar jenazah dekat Teheran pada malam yang sama. Sumber-sumber di Iran juga mengindikasikan bahwa jumlah korban tewas kemungkinan lebih tinggi dari yang dilaporkan resmi.

6. Pemadaman Internet dan Kesulitan Verifikasi Informasi

Pemerintah Iran telah memberlakukan pemadaman internet sejak Kamis (08/01), menyulitkan organisasi berita internasional seperti BBC untuk melaporkan dan memverifikasi informasi dari dalam negeri secara independen. Ini menjadi taktik umum pemerintah untuk mengontrol narasi dan membatasi penyebaran informasi tentang kerusuhan.

7. Tuduhan Keterlibatan Asing dan Ancaman Internasional

Pemimpin Iran Khamenei menyebut para demonstran sebagai "pembuat onar," sementara pemerintah Iran menuduh bahwa aksi protes ini didukung oleh AS dan Israel.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengancam akan campur tangan dan mengatakan militer AS sedang mempertimbangkan "opsi yang sangat kuat," menambah kompleksitas situasi geopolitik.

8. Mengulang Sejarah Protes Besar Pasca Kematian Mahsa Amini

Baca Juga: Iran Dituding Bantu Rusia dalam Perang Lawan Ukraina, Desakan FIFA Coret Timnas Iran dari Piala Dunia 2022 semakin Kuat

Kerusuhan ini merupakan yang paling meluas sejak pemberontakan pada tahun 2022, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini.

Mahsa Amini adalah seorang perempuan muda Kurdi yang ditahan oleh polisi syariah karena diduga tidak mengenakan hijab dengan benar, dan kemudian meninggal dunia. Protes saat itu juga menelan lebih dari 550 korban jiwa dan 20.000 orang ditahan, menurut kelompok hak asasi manusia.

Load More