- Abdi Dalem Palawija merupakan kelompok abdi dalem berkebutuhan fisik khusus yang dihormati sejak 1755.
- Mereka awalnya berperan penting sebagai penolak bala dan penjaga kekuatan spiritual dalam upacara kenegaraan Keraton.
- Fungsi spesifik penolak bala berakhir setelah kemerdekaan, dan posisi khas mereka hilang pada 1989.
Pada masa awal pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX, mereka masih berperan sebagai otoritas spiritual Keraton, berfungsi sebagai pelindung dari bala, terutama dari musuh-musuh penjajah.
Namun, pada akhir pemerintahan Sultan Hamengkubwono IX dan menjelang era Sultan Hamengkubuwono X, pandangan Keraton terhadap Abdi Dalem Palawija mulai berubah. Mereka tidak lagi dipandang sebagai penjaga kekuatan spiritual, karena Indonesia telah merdeka dan penjajahan telah berakhir.
Dengan berlalunya waktu, Abdi Dalem Palawija lebih berperan sebagai pegawai yang membantu menjalankan sistem pemerintahan Keraton, seperti abdi dalem pada umumnya.
Fungsi mereka sebagai penolak bala pun tidak lagi relevan karena tidak ada lagi musuh penjajah yang mengancam Keraton.
Akhir dari Keberadaan Abdi Dalem Palawija di Keraton
Pada 1989, Abdi Dalem Palawija terakhir kali terlihat dalam upacara kenegaraan Keraton, yaitu saat penobatan Sultan Hamengkubwono X.
Sejak saat itu, posisi mereka mulai hilang, meskipun difabel tetap ada di Keraton dalam berbagai fungsi pelayanan sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Abdi Dalem Palawija tidak lagi ada dalam peran khas mereka di Keraton Yogyakarta, namun warisan dan peran mereka sebagai bagian dari tradisi spiritual dan kebudayaan Keraton tetap dikenang.
Abdi Dalem Palawija adalah bagian penting dari sejarah Keraton Yogyakarta yang memiliki peran besar dalam tradisi kerajaan. Meskipun peran mereka telah banyak berubah seiring berjalannya waktu, terutama setelah kemerdekaan Indonesia, mereka tetap menjadi simbol kebijaksanaan dan kesetaraan di Keraton.
Baca Juga: Niat ke SPBU Berujung Maut, Pemotor 18 Tahun Tewas Tertabrak Bus di Temon Kulon Progo
Keberadaan mereka mengajarkan kita bahwa setiap individu, tanpa memandang kekurangan fisik, memiliki tempat yang mulia dalam masyarakat. Kini, meskipun tidak lagi berfungsi sebagai penolak bala, warisan mereka tetap hidup dalam setiap ritual dan upacara yang berlangsung di Keraton Yogyakarta.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh
-
Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, Muhammadiyah Minta Pencarian Gunakan Teknologi Terbaru
-
Heboh LHKP Muhammadiyah Cap Program MBG Haram, Haedar Nashir Buka Suara
-
Jelang Tanwir ke-114, Muhammadiyah Sentil Masalah Bangsa Menumpuk, Elite Tak Gerak Cepat
-
Dana Desa Dipangkas untuk Kopdes Merah Putih, Banyak Lurah Takut Masuk Penjara, DIY Andalkan Danais