- Sri Sultan HB X memutuskan meniadakan kirab gunungan pada perayaan Garebeg Besar di Keraton Yogyakarta, 27 Mei 2026.
- Keputusan penyederhanaan prosesi ini dilakukan demi efisiensi biaya di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
- Seluruh rangkaian upacara hanya dilaksanakan secara terbatas oleh internal abdi dalem tanpa melibatkan partisipasi masyarakat umum.
Namun tahun ini seluruh ubarampe pareden hanya akan dibagikan kepada abdi dalem di dalam keraton.
“Jadi tidak ada gunungan yang keluar dari keraton, tidak ada iring-iringan prajurit juga. Seluruh ubarampe pareden nantinya hanya akan dibagikan kepada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta,” ujar KRT Kusumanegara, salah satu Abdi Dalem senior Keraton Yogyakarta.
Menurut Kusumanegara, pihak keraton telah menerima Dhawuh Dalem untuk menyederhanakan pelaksanaan Garebeg Besar tahun ini.
Format pelaksanaannya disebut akan menyerupai Garebeg saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
Akibat penyederhanaan tersebut, sejumlah rangkaian acara pendukung seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik juga ditiadakan.
Tradisi Bisa Berubah Sesuai Zaman
Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Keraton Yogyakarta, KRT Sindurejo, mengatakan perubahan bentuk Garebeg sebenarnya pernah terjadi beberapa kali dalam sejarah Keraton.
Mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga pandemi Covid-19, prosesi Garebeg disebut selalu menyesuaikan kondisi zaman tanpa menghilangkan esensi utamanya.
“Ini menunjukkan rangkaian upacara budaya dapat berubah sesuai situasi dan kondisi, asalkan esensinya tetap sama,” ujarnya.
Baca Juga: Air Mata Haru di Balik Antrean Syawalan Sultan: Perjuangan Siswa Difabel Demi Salaman Raja Jogja
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, meminta masyarakat memahami keputusan Keraton tersebut.
Menurutnya, meski prosesi pembagian pareden ke luar keraton ditiadakan, nilai utama Garebeg sebagai simbol sedekah Raja kepada rakyat tetap tidak berubah.
“Tidak digelarnya prosesi pembagian pareden ke luar lingkungan keraton sama sekali tidak menghilangkan esensi utama Garebeg sebagai wujud syukur dan sedekah dari Raja,” pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
-
Air Mata Haru di Balik Antrean Syawalan Sultan: Perjuangan Siswa Difabel Demi Salaman Raja Jogja
-
Babak Baru Rampasan Geger Sepehi 1812: Trah Sultan HB II Tegas Ambil Langkah Hukum Internasional
-
Trah Sultan HB II Ungkap Aset Rampasan Geger Sepehi 1812 yang Masih di Inggris, Nilainya Fantastis
-
Mengenal Abdi Dalem Palawija: Peran dan Perubahannya di Keraton Yogyakarta
-
Banjir Merenggut Sawah dan Rumah, Mahasiswa Sumatera dan Aceh di Jogja Berjuang Bertahan Hidup
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 6 Sunscreen Moisturizer Terbaik untuk Anti Aging, Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Penonton Jogja Geger! Penayangan Eksklusif Badut Gendong Bikin Tegang dan Campur Aduk Emosi
-
Motor Listrik Rakitan Siswa SMK Ini Tembus 132 Km/Jam, Suaranya Nyaris Tak Terdengar
-
Rupiah Melemah, Biaya Produksi Pertanian di Jogja Naik, Pemda DIY Siapkan Pemetaan Dampak ke Petani
-
Jogja Darurat Pendidikan: 5.023 Anak Putus Sekolah, Nasib Guru Honorer di Ujung Tanduk
-
Rupiah Tembus Rp17.600, Aisyiyah: Pernyataan Prabowo 'Desa Tak Butuh Dolar' Cederai Rakyat