Ini Penjelasan Peneliti UGM Terkait Longsor di Makam Raja Imogiri

Chandra Iswinarno
Ini Penjelasan Peneliti UGM Terkait Longsor di Makam Raja Imogiri
Peneliti Geologi UGM Wahyu Wilopo. [Suara.com/Sri Handayani]

Retakan utama atau mahkota longsor terjadi di sisi barat bangunan Calon Makam Sri Sultan Hamengku Buwono X. Lebarnya mencapai sekitar 35 meter, berkedalaman sekitar 25 meter.

Suara.com - Setelah peristiwa tanah longsor yang terjadi di Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Universitas Gadjah Mada (UGM) menerjunkan mahasiswa untuk melakukan pemetaan dan analisa kejadian tanah longsor.

Hasil kajian tersebut dipaparkan hari ini, Kamis (21/3), di Fakultas Teknik Geologi.

Peneliti UGM Wahyu Wilopo mengatakan gerakan tanah atau longsor di Makam Raja Imogiri dipicu oleh curah hujan tinggi pada 17 Maret 2019. Pada hari tersebut, kata Wahyu, intensitas curah hujan mencapai 148 milimeter per hari.

Jika dikalkulasi dalam empat hari terakhir sebelum kejadian, ucap Wahyu, curah hujan mencapai hampir 300 milimeter per hari.

"Saya kira itu hujan yang sangat tinggi sekali, menyebabkan banyak kejadian longsor. Tidak hanya di Imogiri, dalam sejarah longsor di Jawa hampir semua kalau curah hujan lebih dari 100 milimeter per hari biasanya menyebabkan terjadinya longsor," kata Wahyu di Fakultas Teknik Geologi UGM, Sinduadi, Mlati, Sleman, Kamis (21/03/2019).

Di sisi lain, kondisi tanah di sekitar Makam Raja Imogiri memang rentan longsor. Sebagian daerah itu terdiri dari lereng curam. Batuan yang ada juga telah mengalami pelapukan, sehingga rentan sekali longsor.

Gerakan tanah di Makam Raja Imogiri secara umum memiliki karakteristik tipe luncuran (rotational sliding).

Ini merupakan longsor dengan bidang luncur berbentuk kurva melengkung. Kejadian ini berdampak ke rumah warga dan infrastruktur jalan.

Setelah terjadi longsor, ada beberapa retakan yang kini masih rentan.

Retakan utama atau mahkota longsor terjadi di sisi barat bangunan Calon Makam Sri Sultan Hamengku Buwono X. Lebarnya mencapai sekitar 35 meter dengan kedalaman sekitar 25 meter.

Retakan di pemakaman Sri Sultan Hamengku Buwono IX melintang dari barat ke timur dengan arah pergerakan ke selatan. Panjang retakan mencapai sekitar 25 meter.

Penurunan tanah di lokasi tersebut mencapai sekitar 30 sentimeter dengan lebar bukaan sekitar 10 sentimeter.

Terdapat retakan di sisi utara bangunan calon makam Sri Sultan Hamengku Buwono X. panjangnya mencapai 10 meter dengan arah pergerakan ke utara. Retakan lain memiliki panjang sekitar 25 meter dengan arah relatif ke timur.

Kontributor : Sri Handayani

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS