Hari Anak Nasional, Siswa 14 Tahun Sekolah Daring Sambil Jadi Buruh Warung

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Hari Anak Nasional, Siswa 14 Tahun Sekolah Daring Sambil Jadi Buruh Warung
Juliyanto, pelajar 14 tahun di Jogja yang menjalani sekolah daring sambil bekerja jadi buruh warung - (SuaraJogja.id/Putu)

Pelajar kelahiran 20 Juli 2006 ini rela tak istirahat agar jam belajarnya tak terganggu jam kerjanya.

SuaraJogja.id - Bagi sebagian besar anak-anak, terutama di usia sekolah, persoalan yang mereka hadapi selama masa pandemi ini adalah sulitnya belajar secara daring. Namun, di antara mereka, ada pula anak yang harus membagi waktunya untuk belajar daring sekaligus bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk di Hari Anak Nasional, yang jatuh pada setiap 23 Juli.

Sebut saja Juliyanto, siswa SMP Gotong Royong Yogyakarta yang terpaksa harus menjadi buruh untuk bisa bertahan hidup. Ayahnya, yang hanya kerja sebagai buruh serabutan, dan ibunya, yang tidak bekerja, kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari tujuh anaknya. Karena itu mau tidak mau, anak kelima dari tujuh bersaudara itu harus ikut bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan membantu orang tuanya.

Di sela-sela belajar daring, warga Janten RT 02 Ngestiharjo, Bantul itu bekerja membantu salah satu pemilik warung di dekat rumahnya untuk mengangkut sayur dan bahan pokok untuk dijual setiap pagi dan sore. Untuk menambah pendapatan, dia juga membantu cucu pemilik warung untuk belajar.

“Tiap hari bantu mengangkat sayur dan menata di warung sambil jualan, terus dikasih uang sama pemilik warung, ya cukuplah buat sehari-hari,” ujar Juli saat dihubungi SuaraJogja.id, Kamis (23/7/2020).

Meski harus membagi waktu antara belajar dan bekerja di usianya yang baru 14 tahun itu, ia tidak pernah mengeluh. Pelajar kelahiran 20 Juli 2006 ini rela tak istirahat agar jam belajarnya tak terganggu jam kerjanya.

Di tengah keterbatasannya, Juli bahkan rela membantu teman-teman lainnya yang kesulitan menjalani sekolah daring. Walaupun kuota data di ponselnya tak banyak, dia meminjamkan alat komunikasi tersebut pada teman-temannya yang membutuhkan.

“Saya sambil ikut jualan juga membantu belajar cucu nenek pemilik warung karena dia anak berkebutuhan khusus slow learner jadi butuh dibantu belajar biar tidak ketinggalan pelajaran,”ungkapnya.

Juli mengaku tidak malu untuk bekerja di usianya yang muda. Kakak-kakaknya pun juga bekerja sembari sekolah. Salah satu kakak perempuannya yang juga lulus dari SMA Gotong Royong juga bekerja sebagai buruh pabrik tahu di sela sekolah.

Yang penting buatnya, ia tidak menyusahkan kehidupan orang tuanya, yang memang kekurangan secara ekonomi. Apalagi, masih ada dua adiknya yang harus diurus.

“Yang penting halal dan saya masih bisa terus sekolah walaupun harus kerja apa pun,” tandasnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS