Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

UGM Bikin Alat Prediksi Gempa, BMKG: Itu Ibarat Tes Covid-19 Ukur Suhu

Galih Priatmojo Senin, 28 September 2020 | 09:01 WIB

UGM Bikin Alat Prediksi Gempa, BMKG: Itu Ibarat Tes Covid-19 Ukur Suhu
Sistem informasi EWS yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada bekerja berdasarkan konsentrasi gas radon [Dok UGM].

BMKG sejauh ini dengan alat yang lengkap belum berani publish terkait prediksi gempa

SuaraJogja.id - Beberapa waktu lalu peneliti UGM merilis tentang hasil pengembangan sistem pendeteksi gempa yang mampu memprediksi tiga hari sebelum gempa. BMKG pun memberikan responnya.

Lewat kicauannya di Twitter, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono mengungkapkan bahwa memprediksi gempa dengan cara mengukur konsentrasi gas daron dan level air tanah ibarat tes Covid-19 dengan mengukur suhu.

Padahal seperti diketahui, sama halnya Covid-19 yang punya gejala kompleks, begitu pula dengan terjadinya gempa.

Menurutnya banyak parameter yang perlu dilakukan perihal prediksi terjadinya gempa.

Ia menyebut BMKG sudah melakukan semua pengukuran dengan alat-alat yang termasuk mumpuni sejak 2010 di stasiunnya di Yogyakarta. Tetapi hasil yang didapat belum konsisten.

"Sebaiknya terintegrasi dengan magnet bumi, TEC, suhu air tanah, tilt meter, strain meter pada tempat sama. Yang lengkap alatnya saja belum konsisten hasilnya, kita belum berani publis," tulisnya.

Sebelumnya tim peneliti dari UGM mengaku tengah mengembangkan sistem pendeteksi gempa yang mampu memprediksi satu sampai tiga hari sebelum terjadi gempa.

"Early warning system (EWS) gempa alogaritma yang kami kembangkan bisa tahu satu sampai tiga hari sebelum gempa. Jika gempa besar di atas 6 SR sekitar dua minggu sebelumnya alat ini sudah mulai memberikan peringatan," kata Ketua tim riset Laboratorium Sistem Sensor dan Telekontrol Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, Prof. Ir. Sunarno melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Minggu (27/9/2020).

Sunarno menjelaskan sistem peringatan dini gempa yang dikembangkannya bersama tim bekerja berdasarkan perbedaan konsentrasi gas radon dan level air tanah yang merupakan anomali alam sebelum terjadinya gempa bumi.

Menurut dia, apabila akan terjadi gempa di lempengan, akan muncul fenomena paparan gas radon alam dari tanah meningkat secara signifikan. Permukaan air tanah juga naik turun secara signifikan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait