- Invasi AS dan penangkapan Maduro dinilai belum menjamin pemulihan krisis ekonomi Venezuela yang berkepanjangan.
- Tindakan AS berpotensi memperpanjang ketidakpastian ekonomi karena adanya kepentingan penguasaan minyak bumi negara tersebut.
- Krisis Venezuela merupakan akumulasi tekanan struktural lama, diperparah oleh kebijakan blokade dan sanksi Amerika Serikat.
SuaraJogja.id - Harapan kebanyakan rakyat Venezuela akan perubahan pasca invasi Amerika Serikat (AS) ke negara tersebut yang digadang-gadang akan membawa perubahan besar dalam sejarah negara tersebut nampaknya masih tak jelas.
Pakar Ekonomi Politik internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Faris Al-Fadhat menyebut, krisis ekonomi berkepanjangan yang terjadi di negara itu belum tentu pulih.
Di tengah situasi ekonomi yang sudah lama rapuh, langkah Donald Trump yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dinilai belum tentu membawa pemulihan. Bukannya pemulihan ekonomi, tindakan presiden AS itu berpotensi memperpanjang ketidakpastian karena penuh kepentingan, terutama isu penguasaan minyak bumi di Venezuela oleh AS.
"Ketika Amerika Serikat menyampaikan akan running the country dan mengambil alih operasi minyak, itu masih sangat ambigu. Pertanyaannya, apakah manfaat ekonomi tersebut akan sepenuhnya kembali ke Venezuela atau justru lebih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan Amerika," papar Faris di Yogyakarta, Senin (5/1/2026).
Baca Juga:Waspada! Ini 3 Titik Kemacetan Paling Parah di Yogyakarta Saat Malam Tahun Baru
Faris menyatakan, alih-alih sebagai pintu keluar dari krisis panjang, invasi itu justru menyisakan lebih banyak pertanyaan ketimbang kepastian. Sebab belum ada kejelasan mengenai arah kebijakan ekonomi yang akan dijalankan AS di Venezuela, terutama terkait pengelolaan sektor minyak yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Padahal minyak bumi menjadi jantung ekonomi Venezuela. Sekitar 90 persen pendapatan negara bersumber dari sektor ini.
Ketergantungan ekstrem tersebut membuat setiap gangguan terhadap industri energi langsung berdampak pada stabilitas fiskal negara. Apalagi krisis ekonomi Venezuela tidak dapat dilepaskan dari peran Amerika Serikat sendiri di masa lalu.
Kebijakan blokade, sanksi, serta pembatasan ekspor minyak yang diberlakukan AS sebelumnya ikut memperparah runtuhnya kemampuan negara. Negara Amerika Latin itu kesulitan membiayai layanan publik dan kewajiban fiskalnya.
"Krisis yang terjadi sekarang ini tidak berdiri sendiri karena erupakan akumulasi dari tekanan struktural yang sudah berlangsung lama," tandasnya.
Baca Juga:Jogja Jadi Tourist Darling, Pujian Bertebaran di Medsos hingga Kunjungan Destinasi Merata
Faris menambahkan, invasi tersebut juga memunculkan perpecahan di internal negara. Sebagian warga Venezuela menyambut tindakan AS sebagai harapan baru karena kekecewaan mereka pada pemerintahan Maduro yang dinilai gagal mengelola ekonomi.
Sikap otoriter Maduro juga memperparah krisis berkepanjangan, hiperinflasi dan. kelangkaan barang kebutuhan pokok. Bahkan negara itu tidak bisa membayar gaji aparatur dan menyediakan layanan publik
Namun di sisi lain, rakyat Venezuela tidak punya jaminan pasca pengambilalihan peran negara oleh otoritas AS. Kepentingan strategis negara Paman Sam, terutama di sektor energi diniai akan berpotensi lebih dominan dibanding kepentingan kesejahteraan publik Venezuela.
"Apakah Amerika ingin memperbaiki ekonomi Venezuela atau justru lebih fokus mengamankan kepentingan ekonominya sendiri, terutama di sektor energi," tandasnya.
Karenanya Faris memprediksi, arah ekonomi Venezuela kedepan sangat ditentukan kebijakan konkret siapapun yang berkuasa di Venezuela dan menguasai produksi dan distribusi minyak. Dia tidak yakin ada investasi serius pada sektor non migas seperti pangan, industri, dan layanan sosial yang dikelola AS.
Bila itu terjadi maka perubahan struktural dan pemulihan ekonomi hanya akan menjadi narasi politik tanpa fondasi nyata.