Drainase Buruk di TPST Piyungan, Sutam Takut Tertimbun Tanah Longsor

Selain air limpasan hujan, Sutam juga kerap mendapati limbah berupa air dari campuran sampah yang jatuh ke sekitar rumahnya.

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Muhammad Ilham Baktora
Selasa, 22 Desember 2020 | 15:33 WIB
Drainase Buruk di TPST Piyungan, Sutam Takut Tertimbun Tanah Longsor
Seorang warga, Sutam, menunjukkan cekungan yang menyebabkan air dari TPST Piyungan mengalir ke rumahnya di Lengkong, Bawuran, Piyungan, Kabupaten Bantul, Selasa (22/12/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

SuaraJogja.id - Sejumlah warga di Pedukuhan Lengkong RT 1, Kalurahan Bawuran, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul hanya bisa berharap-harap cemas dengan situasi di musim penghujan saat ini. Belasan warga yang tinggal di sekitar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan kerap terdampak limpasan air hujan. Bahkan kekhawatiran masyarakat terhadap tanah longsor kerap menghantui saat terjadi hujan deras.

Hal itu diungkapkan warga Lengkong RT 1, Sutam (36), saat ditemui di TPST Piyungan, Selasa (22/11/2020). Pria yang bekerja sebagai buruh bangunan ini kerap membuat penghalang dari pecahan beton dan bantal bekas agar air dari lokasi TPST tak turun ke rumahnya.

"Hampir tiap hujan deras saya dan kakak saya masuk ke dalam area TPST Piyungan, jadi sekadar untuk menahan air agar tidak jatuh ke rumah saya yang ada di bawah tebing TPST," ungkap Sutam.

Ia mengaku, ada sebuah cekungan yang berada di akses jalan TPST Piyungan, sehingga ketika hujan, air mengalir ke cekungan tersebut dan akan turun ke permukiman warga Lengkong.

Baca Juga:TPST Piyungan Ditutup 4 Hari, Warga Desak Pemerintah Ikut Tanggung Jawab

"Saya melihat drainase di lokasi TPST Piyungan itu tidak segera dibenahi. Dampaknya, saat hujan deras air melintasi cekungan masuk ke drainase [rusak] dan turun ke rumah saya. Alirannya deras, terlebih lagi saya khawatir ketika terjadi longsor," keluh dia.

Selain air limpasan hujan, Sutam juga kerap mendapati limbah berupa air dari campuran sampah yang jatuh ke sekitar rumahnya. Beruntung, aliran air itu tidak sampai membuat rumahnya kebanjiran.

"Kadang aroma sampah itu tidak enak, bau apek, apalagi di rumah saya ada dua anak. Satu usia 9 tahun dan bayi 3 tahun," kata dia.

Seorang warga, Sutam, menyampaikan keluhannya kepada wartawan di TPST Piyungan, Kabupaten Bantul, Selasa (22/12/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)
Seorang warga, Sutam, menyampaikan keluhannya kepada wartawan di TPST Piyungan, Kabupaten Bantul, Selasa (22/12/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Dampak itu dia alami sejak pemerintah membangun talut di sekitar dermaga pembuangan. Namun, pembangunan talut tidak diiringi dengan drainase yang baik.

"Kami kira sudah satu paket, pemerintah membangun talut untuk menahan sampah agar tidak berserakan ke rumah warga. Mereka juga sekaligus menyiapkan drainase. Nyatanya hal itu tak dilakukan," ungkapnya.

Baca Juga:TPST Piyungan Kembali Ditutup, Pemkot Jogja Minta Warga Simpan Sampah

Keadaan itu ia alami hampir dua tahun. Ia juga sudah meminta pihak berwenang menyelesaikan masalah ini, dibantu perantara dari Paguyuban Mardiko TPST Piyungan.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak