Komunitas Sepeda Tinggi Jogja, Rangkul Generasi Muda agar Tetap Rendah Hati

Mengayuh sepeda tinggi bukan berarti untuk pamer, melainkan untuk mengetahui keadaan sekitar orang dengan sudut pandang yang lebih luas.

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Muhammad Ilham Baktora
Minggu, 24 Januari 2021 | 18:40 WIB
Komunitas Sepeda Tinggi Jogja, Rangkul Generasi Muda agar Tetap Rendah Hati
Komunitas sepeda tinggi Yogyakarta memamerkan sepeda tinggi di wilayah Bantul, Minggu (24/1/2021). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

SuaraJogja.id - Generasi muda yang santu, menjadi salah satu harapan besar bangsa Indonesia saat ini. Unggah-ungguh di Yogyakarta pun menjadi hal yang perlu dijaga kelestariannya di tengah perkembangan teknologi serta situasi saat ini.

Tak dipungkiri, masuknya budaya dari luar ke Indonesia sedikit menggeser bagaimana anak muda harus bersikap. Meski tata krama masih ada, hal itu mulai sedikit pudar terlihat di tengah masyarakat.

Salah satu komunitas sepeda tinggi atau perkumpulan Pit Dhuwur Yogyakarta melihat pentingnya generasi muda bersikap di tengah perkembangan teknologi yang ada.

Mengayuh sepeda tinggi bukan berarti untuk pamer, melainkan untuk mengetahui keadaan sekitar orang dengan sudut pandang yang lebih luas. Harapannya, pengendara lebih bijak dan arif melihat situasi dan tetap merendah ketika berkumpul di tengah masyarakat.

Baca Juga:Mengenal Komunitas Pit Dhuwur atau Sepeda Tinggi Jogja

Kemunculan Pit Dhuwur Yogyakarta berawal dari 2006 silam. Setelah Gunung Merapi memuntahkan lava pijarnya dan seiring dengan kebangkitan trauma serta ekonomi warga, Pit Dhuwur ini muncul.

"Awalnya untuk melakukan sirkus di Jogja. Saat itu hanya digunakan untuk hiburan oleh teman kami yang biasa dipanggil Mas Kampret. Seiring berjalannya waktu, banyak pandangan negatif soal sirkus, terutama penyiksaan terhadap binatang. Meski bukan kami yang dimaksud, tetapi keberadaan sepeda tinggi di Yogyakarta menjadi vakum," ujar Koordinator Sepeda Tinggi Yogyakarta Arip Buwono, ditemui SuaraJogja.id, Minggu (24/1/2021).

Komunitas atau perkumpulan sepeda tinggi ini kali pertama hanya beranggotakan 10 orang. Masing-masing orang memiliki sepeda tinggi mulai dari tinggi 1-2 meter.

Komunitas sepeda tinggi Yogyakarta memamerkan sepeda tinggi di wilayah Bantul, Minggu (24/1/2021). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)
Komunitas sepeda tinggi Yogyakarta memamerkan sepeda tinggi di wilayah Bantul, Minggu (24/1/2021). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Kemunculan kampanye bersepeda di Yogyakarta, salah satunya Jogja Last Friday Ride (JLFR), pada 2010 kembali menghidupkan komunitas tersebut. Memang awal kemunculannya hanya sebatas hiburan. Lambat laun filosofi dari bersepeda tinggi ini muncul.

Bersepeda dengan tinggi mencapai 2 meter misalnya. Pengendara bisa mengukur jarak tinggi dan bagaimana harus menghormati orang lain saat menggunakan akses jalan. Berada di ketinggian bukan untuk menunjukkan posisi yang tinggi diatas bak penguasa.

Baca Juga:Viral Bule di Jogja Dagang Mi Ayam, Harga Semangkok Mulai 7 Ribuan

"Kita memang mengkampanyekan bersepeda sehat di Jogja. Selain itu kita harus ngajeni kiwo tengen [menghormati kanan-kiri] saat mengayuh sepeda ini," ujar Arip.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak