Bende itu, kata Sukirno biasanya terletak di sisi utara desa dengan penampakan langsung mengarah ke Gunung Merapi. Nantinya ada warga yang membunyikan bende tersebut jika terlihat munculnya awan panas atau erupsi Merapi mulai terjadi.
Namun celakanya, saat itu alat peringatan dini yang diharapkan warga dapat memberi tanda itu justru tak dapat digunakan. Pasalnya tempat bende itu diletakkan sudah tergilas lebih dulu oleh terjangan awan panas Gunung Merapi.

"Ternyata bende sudah kena [awan panas] duluan bahkan yang biasanya jaga juga kena. Jadi warga tidak tahu kalau memang ternyata Gunung Merapi mengalami peningkatan aktivitas. Biasanya ada tanda-tanda dulu, kata orang Jawa wangsit atau semacamnya. Semisal akan terjadi di siang hari, maka pagi sudah ada tanda-tanda. Tapi waktu itu terjadi begitu saja," ungkapnya.
Sukirno yang baru saja tiba di rumah tempat resepsi pernikahan dilangsungkan melihat ada semacam gumpalan abu. Terlihat gelap, dan ternyata tidak sampai lima menit kemudian awan panas itu datang.
Baca Juga:Sambangi Pengungsian Merapi, Wagub Jateng: Sabar Rumiyin Nggih Mbah
"Tidak ada yang sempat lari. Jadi memang kalau kena awan panas waktu itu hewan ternak saja langsung jadi abu," imbuhnya.
Ternyata Sukirno masih terselamatkan dari awan panas yang langsung menyapu seluruh acara resepsi pernikahan tersebut. Dengan tenaga yang tersisa ia langsung menyelamatkan satu anaknya yang ia gendong untuk berlari ke bawah menyelamatkan diri.
Tanpa pikir panjang ia titipkan anaknya itu ke rumah kerabatnya yang ternyata merupakan bude dari Sukirno. Namun nahas memang kondisinya sudah tak terselamatkan.
Tinggal Sukirno yang harus menyelamatkan diri sendiri yang sudah melepuh di sekujur tubuhnya akibat lumatan awan panas. Tak dihiraukan rasa sakit itu, ia bergegas mengambil sebuah sepeda motor yang sempat tertimbun abu vulkanik Gunung Merapi.
Dipacunya sepeda motor itu ke RSUP Dr Sardjito oleh Sukirno tanpa menghiraukan apapun di sekitarnya. Ia hanya berpikir agar bisa segera mendapat perawatan.
Baca Juga:Warga Turgo Mengungsi Usai Merapi Erupsi, Muriyem: Di Sini Lebih Aman
"Pakai sepeda motor saya langsung menuju ke RSUP Dr Sardjito. Tubuh saya sudah terkena luka bakar, kulit saya sudah sempat menyatu dengan sendal saat akan saya copot. Waktu itu dikawal oleh ABRI, lampu merah pun tetap jalan," cetusnya.
Luka bakar yang hampir mencapai 80 persen di tubuhnya membutuhkan pemulihan yang tidak sebentar. Setidaknya empat bulan Sukirno harus dirawat waktu itu.
Sementara untuk pemulihan sendiri membutuhkan waktu sekitar satu tahun lamanya sebelum Sukirno dapat kembali menjalani aktivitasnya secara normal. Rasa sakit waktu itu masih harus ia tahan karena memang luka bakar itu belum sepenuhnya pulih.
"Istilahnya hidup tinggal 20 persen saja, 80 persen sisanya itu ya meninggal. Bisa sembuh karena dapat bantuan operasi oleh dokter dari Jepang," sambungnya.
Berkat pengalamannya ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menunjuk Sukirno sebagai penjaga bunker Tunggularum. Selain itu pada tahun 2008, ia juga resmi bergabung di Pusdalops BPBD Kabupaten Sleman yang berlokasi di Pakem, Sleman.
Saat ini, Sukirno tinggal bersama dengan istri baru dengan anak-anaknya di dusun Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman. Ia berharap warga di lereng Gunung Merapi untuk selalu memperhatikan peringatan dini yang diberikan oleh petugas yang sekarang telah didukung oleh alat-alat dan teknologi yang canggih.