Diserang Bom, Sejarah Gereja Katedral Makassar Libatkan Peran Sultan

Gereja Katedral Makassar memiliki gedung gereja tertua di Kota Makassar, bahkan di seluruh Sulawesi Selatan.

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Minggu, 28 Maret 2021 | 16:27 WIB
Diserang Bom, Sejarah Gereja Katedral Makassar Libatkan Peran Sultan
Gereja Katedral Makassar menyambut natal 2020 / [Foto SuaraSulsel.id: Lorensia Clara Tambing]

Namun akhirnya, pada 1661 para rohaniwan, bersama rakyat Portugis lainnya, harus angkat kaki dari Makassar karena gejolak politik antara VOC dan orang-orang Portugis.

Umat Katolik di kota itu pun hanya bisa dilayani sesekali dari Surabaya, Jawa Timur atau Larantuka, Flores Timur, NTT.

Kemudian pada 1892, Pastor Aselbergs, SJ dipindahkan dari Larantuka menjadi Pastor Stasi Makassar.

Tiga tahun kemudian, pada 1895, sebidang tanah dan rumah di Komedistraat -- kini Jalan Kajaolalido -- dibeli untuk kemudian menjadi lokasi dibangunnya gereja pada 1898.

Baca Juga:Cerita Pasutri Nyaris Jadi Korban Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral

Pembangunan gereja selesai pada 1900, lalu direnovasi dan diperluas sejak 1939 sampai 1941 dengan bentuk yang bertahan hingga saat ini.

Puluhan pastor telah melayani umat di Gereja Katedral Makassar. Selain itu, belasan ribu umat dibaptis dan ribuan pasang pengantin menjalani pemberkatan di gereja yang menjadi keuskupan Makassar sejak 1961 ini.

REKOMENDASI

Lifestyle

Terkini

Tampilkan lebih banyak