Trump Makin Dar-Der-Dor, Pakar Sebut Tatanan Dunia Terguncang, Picu Aksi Teroris

Kebijakan agresif dan unilateral Trump (America First) ancam stabilitas ekonomi-keamanan global, lemahkan komitmen iklim & pendanaan PBB.

Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 09 Januari 2026 | 14:34 WIB
Trump Makin Dar-Der-Dor, Pakar Sebut Tatanan Dunia Terguncang, Picu Aksi Teroris
Ilustrasi Donald Trump tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (Suara.com)
Baca 10 detik
  • Kebijakan Donald Trump yang unilateral dan agresif mengancam stabilitas ekonomi serta keamanan global secara signifikan.
  • Langkah penarikan diri AS dari kesepakatan internasional melemahkan upaya kolektif mengatasi krisis lingkungan global.
  • Kebijakan tersebut dikhawatirkan memicu sistem *self-help* global, meningkatkan konflik, dan melemahkan peran AS.

SuaraJogja.id - Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang semakin agresif dan unilateral  saat ini dinilai berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dan keamanan global.

Langkah Washington yang menarik diri dari puluhan organisasi internasional, menghentikan pendanaan, bahkan keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta mengedepankan kepentingan nasional secara ekstrem, memunculkan kekhawatiran baru tentang masa depan tatanan dunia.

Pakar Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ratih Herningtyas, menyatakan, arah kebijakan Trump yang dar-der-dor menunjukkan kecenderungan tindakan yang frontal dan minim pertimbangan terhadap dampak global.

"Yang dilakukan Trump hari ini bukan impulsif, tapi konsisten dengan janji politiknya sejak awal, yakni America First. Masalahnya, cara yang ditempuh sangat unilateral dan mengabaikan norma-norma global," papar Ratih di Yogyakarta, Jumat (9/1/2026).

Baca Juga:Distributor Menjerit: Tarif Trump 19 Persen Bikin Usaha Lokal Mati Suri?

Menurut dosen Magister HI tersebut, sejak masa kampanye Trump sudah menempatkan kepentingan ekonomi domestik, terutama sektor energi fosil, sebagai prioritas utama.

Slogan “Drill, baby, drill” yang ia gaungkan mencerminkan orientasi kebijakan pada eksploitasi sumber daya alam (SDA), khususnya minyak, dan penolakan terhadap agenda energi terbarukan serta kebijakan lingkungan.

Langkah AS keluar dari berbagai kesepakatan internasional, termasuk yang berkaitan dengan perubahan iklim akhirnya memperlemah komitmen global dalam menghadapi krisis lingkungan. Penarikan Amerika dari kerangka kerja perubahan iklim seperti Badan Konvensi PBB untuk aksi iklim UNFCCC dan Paris Agreement berpotensi memperlambat upaya dunia menekan laju pemanasan global.

"Kalau negara penghasil emisi terbesar saja menarik diri dari komitmen lingkungan, maka semangat kolektif untuk menurunkan emisi akan melemah. Negara lain bisa saja ikut abai," tandasnya.

Selain dampak lingkungan, kebijakan lain yang digulirkan Trump juga berpotensi memukul ekonomi global. AS selama ini menjadi salah satu donatur terbesar bagi berbagai program pembangunan internasional di bawah PBB, termasuk program pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga:Diplomasi Indonesia Diuji: Mampukah RI Lolos dari Tekanan Trump Tanpa Kehilangan Cina?

Dengan ditariknya dukungan pendanaan tersebut, maka banyak program internasional terancam tertunda atau bahkan berhenti. Dalam situasi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih, kehilangan sumber pendanaan besar akan memperparah ketidakpastian.

"PBB akan kesulitan mencari sumber pembiayaan alternatif. Ini berarti banyak target pembangunan global kemungkinan tidak tercapai," ujarnya.

Ratih menambahan, kebijakan Trump sebenarnya merupakan cerminan tekanan ekonomi domestik negaranya sendiri. Orientasi eksploitasi sumber daya dan pengetatan anggaran internasional yang dilakukan negara itu menunjukkan upaya AS mencari tambahan devisa sekaligus mengurangi beban fiskal.

Bila Trump terus menerus membuat kebijakan yang kontroversial, maka dikhawatirkan akan berdampak besar pada terhadap tatanan keamanan global. Dengan melemahnya hukum internasional dan multilateralisme, dunia berpotensi bergerak menuju sistem self-help karena  setiap negara hanya mengandalkan kekuatannya sendiri.

"Kalau negara paling kuat saja merasa tidak perlu patuh pada hukum internasional, maka negara lain bisa meniru. Ini bisa memicu perlombaan senjata dan meningkatnya konflik," katanya.

Ratih menilai kondisi ini berbahaya terutama bagi negara-negara yang relatif lebih lemah secara militer, tetapi memiliki sumber daya strategis. Negara-negara tersebut rentan terhadap tekanan politik, ekonomi, bahkan militer dari kekuatan besar.

Apalagi melemahnya soft power AS bisa memicu munculnya sentimen anti-Amerika di berbagai belahan dunia. Dalam sejarah, sentimen semacam itu kerap berujung pada ekstremisme dan aksi terorisme.

"Kalau ketidakpuasan menumpuk dan tidak ada saluran politik yang efektif, sebagian kelompok bisa memilih jalur kekerasan. Itu bukan hanya merugikan Amerika, tapi seluruh dunia," ujarnya.

Kebijakan Trump juga dinilai akan menjadi bumerang bagi negara itu. Bahkan menggerus posisi Amerika sebagai panutan global. Jika sebelumnya Amerika kerap dipandang sebagai pemimpin dalam tata kelola global, kini citra itu memudar.

AS nantinya tidak lagi menarik sebagai role model. Dunia membutuhkan kepemimpinan kolektif untuk menghadapi masalah global, bukan pendekatan sepihak karena saat ini berada di persimpangan antara mempertahankan kerja sama internasional atau kembali ke pola lama hubungan internasional yang sarat konflik dan dominasi kekuatan.

“Kalau PBB terlalu tumpul karena veto dan tarik-menarik kepentingan, maka perlu ada mekanisme lain yang bisa menjaga agar tindakan sepihak tidak semakin liar,” ujarnya.

Ia juga berharap dinamika politik domestik di Amerika Serikat dapat menjadi penyeimbang terhadap kebijakan Trump. Kritik dari oposisi dan masyarakat sipil diharapkan mampu menahan laju kebijakan yang dianggap berisiko tinggi.

"Yang kita khawatirkan adalah jika dunia terbiasa dengan gaya dar-der-dor ini. Kalau itu menjadi normal, maka dunia akan jauh lebih tidak aman dan tidak stabil," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Geometri dan Pengukuran Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak