Screening yang dilakukan oleh mobile health itu kata Rini untuk mencari tahu dugaan warga terindikasi TBC atau tidak. Teknologi yang disematkan juga sudah berbasis Artificial Intellegent (AI).
"Jadi ini hanya untuk mencari tahu apakah memang ada arah warga ini mengalami TBC dilihat dari bentuk rontgen (paru-parunya). Jadi ini juga untuk meminimalisasi ketidaksetujuan antara dokter terhadap pembacaan Rontgen, karena interpretasi tiap dokter itu untuk membaca Rontgen sangat subjektif. Maka adanya AI ini membantu para dokter," katanya.
Terpisah, Menko PMK, Muhadjir Effendy mengapresiasi mobile screening yang dilakukan oleh TB Zero Jogja serta Pemkot Yogyakarta. Pihaknya akan mengkaji agar cara ini bisa diaplikasikan di wilayah lain.
"Akan saya kaji kalau memang sangat visible bisa didesiminasi, artinya bisa digunakan untuk wilayah-wilayah yang lain. Tentu akan kita pelajari mudah-mudahan bisa," kata dia.
Baca Juga:Ketemu Pemungut Barang Bekas Lagi Melamun, Gus Miftah Beri Uang Saat Hendak ke Jogja
Ia menjelaskan bahwa kasus TBC di Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia setelah India. Pihaknya menyebut ada sekitar 860 ribu penderita TBC yang teridentifikasi, sisanya yang belum teridentifikasi sekitar 45-47 persen.
"Ya cukup besarlah, perlu diingat bahwa angka kematian akibat TBC itu masih lebih tinggi dibanding akibat Covid-19 kalau di Indonesia. Kita juga mencanangkan tahun 2030 Indonesia bersih dari TBC sesuai perintah bapak Presiden," kata Muhadjir.