Jika tidak, dipercaya pernikahan mereka bakal disambar musibah dan--yang paling ditakutkan--bubar. Maka wajar bagi warga setempat jika mereka melihat ada ayam diturunkan di Perempatan Palbapang. Bisa saja dalam sehari dua kali muncul ayam di sana jika saat itu ada dua pasangan yang menikah dan melintas di Perempatan Palbapang.
Bahkan, tak jarang pula bukan hanya ayam yang ditinggalkan di Perempatan Palbapang, tetapi juga sesaji, yang biasanya diletakkan di tugu perempatan. Ritual tersebut dilakukan lagi-lagi demi tolak bala.
Meski begitu, dikabarkan ada pula yang menolak percaya mitos tersebut dan membuktikan sendiri bahwa pernikahan kerabatnya tetap langgeng dan bahagia walaupun di hari mengucap janji suci tidak melempar ayam saat melewati Perempatan Palbapang.
Ayam dan Pernikahan
Baca Juga:Ke Candi Prambanan sama Pacar Bikin Putus Cinta? Berani Buktikan Mitos?
Soal ayam, hingga kini belum diketahui pasti latar belakang hubungannya dengan pernikahan. Masyarakat Jawa pada umumnya hanya memegang erat adat nenek moyang untuk melakukan ritual melepas ayam saat menikah.

Bahkan bukan cuma di Bantul, DIY, ritual Jawa yang melibatkan ayam dan pernikahan ini juga berlaku di Magelang, Jawa Tengah hingga Malang, Jawa Timur. Perlakuan terhadap ayam itu pun beragam. Ada yang melempar ayam di jembatan atau sungai, dan ada juga sabung ayam.
Beda dari melepas ayam, ritual kejawen sabung ayam umumnya dilakukan sebelum lamaran. Dua ayam jantan yang diadu itu dianggap sebagai perwakilan sifat baik atau buruk masing-masing calon mempelai. Jika salah satu ayam jantan kalah, apalagi dari pihak laki-laki, ia bakal dianggap tak sepadan untuk perempuan yang ingin ia nikahi.
Maka dari itu, jika terjadi kekalahan tersebut, sepasang kekasih ini harus sudah siap mematuhi pakem dan merelakan hubungan asmara mereka jika tak mau bernasib sial. Kendati begitu, tak sedikit juga yang menganggapnya hanya sebagai formalitas dan mengabaikan larangan dengan tetap melangsungkan pernikahan.
Sementara itu, untuk melepas atau "membuang" ayam, selain demi menghindari musibah, sama dengan yang dilakukan di Perempatan Palbapang, ritual ini juga bermakna sebagai bentuk sedekah dari empunya hajatan. Ayam yang dilepas dipercaya tidak mudah terserang penyakit dan biasanya ditangkap warga sekitar sebagai berkah untuk mereka.
Baca Juga:Tak Heran Obama Lahap, Mie Lethek Kuliner Ndeso Khas Bantul Ternyata Seistimewa Ini