Berangkat dari keprihatinan tentang hal ini, Ribut (35), Harmanto, dan beberapa pemuda yang tergabung dalam wadah Sanggar Lumbung Kawruh Pedukuhan Ngurak Urak akhirnya beberapa hari yang lalu berusaha mencari alternatif dengan mencoba mengeksplorasi Luweng (gua vertikal) yang berada di wilayah mereka.
"Kami masuk ke dalam Luweng dengan tujuan untuk mencari sumber air," paparnya.
Kelompok ini berkolaborasi dengan Keluarga Pecinta Alam Fakultas Sastra (Kapalasastra), Fakultas Ilmu Budaya(FIB), Universitas Gajah Mada(UGM) Yogyakarta, yang mempunyai hobi susur gua(Caving). Mereka difasilitasi oleh Sosen Universitas Brawijaya Malang, Irsyad Mathias(40).
"Sayang kami belum bisa menemukan keberadaan air di dua Luweng/gua yang dimasuki. Pada umumnya eksplor awal gua hanya mengidentifikasi keadaan mulut gua, teknis Rigging (lintasan masuk), dan keadaan ekologis gua, Biota, ornamen gua, lorong gua, dan potensi sumber air," terang Irsyad.
Baca Juga:Kisah Ngeri Pembantaian PKI di Gua Grubug, Dipaksa Terjun ke Lubang Sedalam 98 Meter
Alumnus Kapalasastra FIB UGM ini mengatakan berdasarkan eksplorasi kemarin, mereka mendata bahwa gua Gunung Kendil mempunyai kedalaman vertikal sekitar 25 meter dan chamber/ruang gua sekitar 4 meter. Selain itu pihaknya juga tidak menemukan indikasi lorong lanjutan yang dapat ditelusuri.
Sedangkan gua/luweng Gunung Panggang, menurut Irsyad mempunyai kedalaman vertikal sekitar 8-10 meter, Chamber gua memanjang sekitar 15-20 meter, dan jalurnya tertutup batu. Dalam gua tersebut erdapat Boulder/dinding batu yang mungkin reruntuhan dari permukaan yang menutupi lorong gua.
"Di kedua gua/Luweng ini, sampai akhir eksplorasi, kami tidak menemukan potensi sumber air," kata Jefri(21) menambahi.
Jefri adalah Mahasiswa UGM asal Sulawesi, dia adalah satu dari 9 anak Kapalasastra yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Dalam penelusuran gua/luweng ini, dia dan teman temannya,menggunakan teknik penelusuran Single Rope Tehcnique(SRT).
Kendati tidak menemukan sumber air, menurut Jefri, data tentang gua yang berhasil dikumpulkan bisa menjadi rekomendasi bagi masyarakat tentang pemetaan gua sebagai bahan kajian lebih lanjut.
Baca Juga:Viral Kakek Hidup Sebatang Kara di Tepus, Inem Jogja Beri Penjelasan Alasan Mengunggahnya
"Masyarakat juga perlu mengetahui keberadaan gua/luweng di daerah mereka, sehingga keberadaanya dapat dilindungi. Masyarakat juga perlu mengetahui keberadaan gua/luweng di daerah mereka, sehingga keberadaanya dapat dilindungi," pungkas Jefri.