Sultan Haji kemudian meninggal pada 1687 dan VOC menguasai Banten. Ini membuat pengangkatan Sultan Banten harus disetujui oleh Gubernur Jenderal Hindian Belanda di Batavia. Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya untuk menggantikan Sultan Haji dan kemudian digantikan kembali oleh Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin.
Pada 1808 sampai dengan 1810, Gubernur Hindia Belanda melakukan penyerangan ke Banten di masa pemerintahan Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin. Penyerangan ini terjadi karena Sultan tidak mau menuruti permintaan Hindia Belanda yang ingin memindahkan ibu kota Banten ke Anyer.
Akhir Kerajaan dan Penghapusan
Perang saudara yang berlangsung di Banten meninggalkan ketidakstabilan pemerintahan masa berikutnya. Konflik terjadi antara keturunan penguasa Banten, ketidakpuasan masyarakat Banten, dan ikut campurnya VOC dalam urusan Banten.
Baca Juga:Prakiraan Cuaca BMKG Pelabuhan Merak dan Daerah Pesisir Banten 17 Oktober 2021
Pada 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1810) memerintahkan memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibu kota ke Anyer. Banten juga diminta menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan hendak didirikan di Ujung Kulon.
Sultan menolak perintah Daendels. Sebagai jawabannya, Daendels memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan. Sultan beserta keluarganya disekap di Istana Surosowan dan dipenjarakan di Benteng Speelwijk. Sultan saat ini diasingkan dan dibuang ke Batavia. Pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan wilayah Kesultanan Banten menjadi kekuasaan Hindia Belanda.
Kesultanan Banten resmi dibubarkan oleh pemerintah kolonial Inggris pada 1813. Pada tahun itu, Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dilucuti dan dipaksa turun tahta oleh Thomas Stamford Raffles. Peristiwa ini merupakan pukulan pamungkas yang mengakhiri riwayat Kesultanan Banten.
Kontributor : Titi Sabanada
Baca Juga:Prakiraan Cuaca BMKG 17 Oktober 2021 Tangerang Banten